Mesra di Media Sosial dan Balas Dendam Sang Mantan

KlinikINET

Mesra di Media Sosial dan Balas Dendam Sang Mantan

Konsultan: Dewi Widya Ningrum - detikInet
Selasa, 08 Mar 2016 14:16 WIB
Foto: GettyImages/Chris Jackson
Jakarta - Apakah kita tidak boleh meng-upload foto-foto kita dengan pacar di media sosial? Saya khawatir ada foto saya yang tersebar, seperti kasus 'Ina Si Nononk' di Facebook itu.

Jawaban:

Beredarnya foto mesra seorang remaja perempuan bersama pasangannya melalui akun 'Ina Si Nononk' di Facebook, yang notabene hanya ditutupi selimut, mungkin membuat kita semua prihatin. Di satu sisi, korban merasa dipermalukan dan secara psikologis bisa mengalami stres.

Korban pasti kesal dan sangat marah karena namanya kini tercemar lantaran foto-foto yang seharusnya tak pantas dilihat publik tersebut sudah terlanjur menyebar ke mana-mana. Dalam status Facebooknya, korban mengatakan bahwa akunnya telah dibajak, foto itu bukan ia yang upload. Diduga mantannya cemburu karena ia sekarang telah menikah.

Dalam dunia internet, aksi menyebarkan foto-foto dan video eksplisit dari mantan pacar tanpa persetujuan mereka ini disebut sebagai "Revenge Pornography". Foto-foto yang disebar umumnya yang diambil saat sedang intim atau berciuman. Foto yang disebar ada yang disertai dengan informasi pribadi seperti alamat korban dan nomor telepon.

Pelaku yang meng-upload foto tersebut biasanya ingin membalas dendam karena dia merasa telah ditolak atau diperlakukan tidak adil. Meski belum ada data yang membuktikan, mayoritas pelaku umumnya laki-laki dan korbannya sebagian besar adalah perempuan muda.

Pada beberapa kasus, aksi revenge pornography ini digunakan untuk pemerasan. Korban diancam bahwa foto akan di-posting di media sosial, atau foto yang telah di-posting online tidak akan dihapus jika korban tidak memberikan sejumlah uang atau korban setuju untuk menjalin hubungan lagi.

Ada beberapa media yang digunakan untuk menyebarkan foto eksplisit seperti itu, misalnya media sosial, website dan forum yang dibuat khusus untuk melancarkan aksi balas dendam, atau mengirim pesan langsung kepada korban dan pihak ketiga melalui email atau teks.

Think Before Posting!

Dengan adanya ponsel dan internet, foto-foto kini dengan mudah bisa tersebar ke mana-mana dalam hitungan detik. Dan ingat, foto-foto yang sudah di-upload itu akan tetap ada selamanya di internet karena pengguna internet yang lain ada yang sudah menyimpannya dan menyebarkannya lagi.

Saat berpacaran, mungkin dunia rasanya seperti milik berdua. Apapun rela dilakukan demi menyenangkan pacar. Anak-anak muda terkadang tidak sadar bahwa saat mereka posting sesuatu di internet, informasi itu tidak hanya bisa dilihat oleh mereka saja tetapi oleh semua pengguna internet di dunia.

Meng-upload foto di media sosial boleh-boleh saja kok. Siapa yang tak senang jika foto kita dikomentari, atau kita mendapat ucapan selamat ulang tahun. Yang perlu diingat, jangan terlalu banyak mengumbar foto dan informasi pribadi karena rentan dimanfaatkan dan disalahgunakan. Apalagi jika foto yang di-upload tidak layak dikonsumsi publik.

Belum tentu pacarmu yang sekarang akan menjadi suami/istrimu nanti. Jika pacarmu memintamu untuk foto topless, itu berarti dia tidak menghargai dan menjagamu. Jadi buat apa dituruti.

Privasi di dunia maya tentu harus dijaga, tidak perlu seluruh penghuni Facebook dan media sosial lainnya tahu semua yang kita lakukan. Media sosial bukan buku diari yang bisa digunakan untuk curhat tentang semuanya.

Tantangan Bagi Orangtua

Data menunjukkan, sekitar 80% pengguna internet di Indonesia adalah generasi muda. Mereka ini dikategorikan sebagai digital native atau generasi millenial.

Adapun total jumlah pengguna Internet di Indonesia pada awal 2015 adalah 88,1 juta orang (berdasarkan hasil riset yang dilakukan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bersama Pusat Kajian Komunikasi (Puskakom) Universitas Indonesia). Itu berarti, jumlah pengguna internet dari generasi muda ada sekitar 70 jutaan orang.

Melihat data tersebut, peran orangtua sangat penting untuk selalu mengawasi kehidupan anak mereka di internet. Orangtua tidak bisa menyalahkan teknologi saja karena bagaimanapun internet dan teknologi juga memberikan manfaat positif.

Menjadi orangtua di era internet seperti sekarang memang tidak mudah. Banyak tantangan yang harus ditaklukkan untuk membimbing anak yang semakin lihai bergerak di dunia maya, tanpa harus mengungkung mereka. Orangtua mau tidak mau harus update dengan perkembangan teknologi dan internet.

Dengan mengetahui tantangan apa saja yang dihadapi dan cara penanggulangannya, anak-anak diharap dapat memanfaatkan internet secara positif tanpa perlu takut terseret ke sisi gelap internet. Orangtua harus mau dan mampu terlibat dalam kehidupan online anak-anak mereka. (jsn/ash)