Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Pernah Bangkrut, Atari Kini Kembali Untung Berkat Game Lawas

Pernah Bangkrut, Atari Kini Kembali Untung Berkat Game Lawas


Adi Fida Rahman - detikInet

Atari 2600+
Pernah Bangkrut, Atari Kini Kembali Untung Berkat Gim Lawas Foto: 20Detik
Jakarta -

Atari membuktikan perusahaan game lawas belum tentu tamat. Perusahaan yang identik dengan konsol Atari 2600 dan game Pong itu kembali membukukan keuntungan setelah melewati bertahun-tahun penuh masalah finansial.

Dalam laporan tahun fiskal 2025/2026, Atari mencatatkan pendapatan EUR 56 juta atau sekitar USD 65 juta. Angka tersebut menjadi pendapatan tahunan tertinggi perusahaan dalam lebih dari satu dekade.

Pendapatan dari bisnis game meningkat 67,7% menjadi EUR 46,1 juta. Sementara itu, pendapatan perangkat keras melonjak 83% menjadi EUR 7,3 juta, sebagaimana dilaporkan Reuters.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tanpa memasukkan kinerja Thunderful, laba operasional berjalan Atari berubah menjadi positif sebesar EUR 900.000. Pada tahun sebelumnya, perusahaan masih membukukan kerugian operasional EUR 800.000.

Laba bersih di luar Thunderful mencapai EUR 100.000, berbalik dari kerugian EUR 12,6 juta setahun sebelumnya. Arus kas dari aktivitas operasional juga mencapai EUR 11 juta.

ADVERTISEMENT

CEO Atari Wade Rosen mengatakan perusahaan mencapai profitabilitas operasional untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun. Ia juga optimistis pertumbuhan berkelanjutan dapat dipertahankan.

Bangkit Berkat Nostalgia

Kebangkitan Atari tidak ditopang konsol baru yang mencoba menantang PlayStation, Xbox, atau Nintendo Switch. Strateginya berpusat pada katalog game lawas, peluncuran ulang judul klasik, perangkat retro, dan pembelian studio serta kekayaan intelektual.

Atari kini mengelola portofolio lebih dari 400 game dan waralaba. Alih-alih menghabiskan dana besar untuk membuat game blockbuster dari nol, perusahaan memanfaatkan nama-nama lama yang sudah dikenal pemain.

Atari juga agresif berbelanja dalam setahun terakhir. Perusahaan meningkatkan kepemilikannya di penerbit Swedia Thunderful menjadi 97% dan membeli Hipster Whale, pengembang Crossy Road, senilai USD 29,3 juta.

Selain itu, Atari mengambil alih hak atas lima game Ubisoft, yaitu Cold Fear, I Am Alive, Child of Eden, Grow Home, dan Grow Up. Koleksi tersebut membuka peluang untuk peluncuran ulang, remaster, maupun pengembangan lanjutan.

Strategi ini sejalan dengan tren industri game yang semakin sering menggali katalog lama. Waralaba yang sudah mempunyai penggemar dinilai lebih mudah dipasarkan dibandingkan proyek baru berbiaya tinggi yang belum tentu berhasil.

Penyebutan Atari "pernah bangkrut" perlu disertai konteks. Nama Atari telah beberapa kali berpindah tangan dan digunakan oleh sejumlah entitas sejak perusahaan aslinya didirikan Nolan Bushnell dan Ted Dabney pada 1972.

Pada Januari 2013, sejumlah anak usaha Atari di Amerika Serikat mengajukan perlindungan kebangkrutan Chapter 11. Langkah tersebut ditujukan untuk memisahkan operasinya dari perusahaan induk Prancis yang ketika itu terlilit masalah finansial.

Entitas yang sekarang dikenal sebagai Atari SA berkantor pusat di Paris dan tercatat di Euronext Growth Paris. Jadi, kebangkitan terbaru ini merupakan cerita penerus korporasi pemegang merek Atari-bukan kembalinya perusahaan asli dalam bentuk yang persis sama.



(afr/rns)




Hide Ads