Jumat, 10 Mei 2019 17:12 WIB

Laporan dari Shanghai

Cerita Atlet PUBG Mobile Indonesia nge-Game sebagai Profesi

Danang Sugianto - detikInet
Tim Victim Esports di PUBG Mobile Club Open (PMCO) 2019. (Foto: Danang Sugianto/detikINET) Tim Victim Esports di PUBG Mobile Club Open (PMCO) 2019. (Foto: Danang Sugianto/detikINET)
Shanghai - Nge-game buang-buang waktu? Tidak juga karena game juga bisa menjadi profesi. Seperti sejumlah atlet PUBG Mobile dari Indonesia ini, misalnya.

Anggapan bahwa game semata-mata merupakan media rekreasi boleh jadi masih terpatri di benak banyak orang. Itu membuat aktivitas nge-game dianggap sebelah mata, alias bukan sesuatu yang harus diseriusi.

Anggapan itu pula yang mesti dihadapi oleh para atlet eSport saat ini, secara khusus di Indonesia. Tak sedikit pula yang dapat tentangan dari orang tua, merasa kegiatan main game cuma buang-buang waktu.

Ini dialami oleh Dino Permana Putra, atlet eSport yang tergabung dalam tim Victim Esports. Saat ini timnya menjadi salah satu wakil Indonesia di ajang PUBG Mobile Club Open (PMCO) 2019 tingkat Asia Tenggara, yang diseleneggarakan di China.




Dikisahkannya, aktivitas main game sempat ditentang orang tuanya sendiri. Apalagi saat itu dirinya masih duduk di bangku kuliah. Tak patah semangat, ia pun membuktikan diri dan potensi masa depannya lewat ajang kompetisi.

"Waktu itu di Bandung saya tunjukin dan juara 2. Dapat uang Rp 2,1 juta plus HP," ujarnya di China, Jumat (10/5/2019).

Keberhasilan itu pula yang mengantar Dino Permana Putra direkrut manajemen Victim. Kini baginya eSport sudah menjadi pekerjaan sehingga sulit jika mesti diselingi kuliah. Sekarang, orang tua juga sudah terus mendukungnya.




Bagus Indriawan, rekannya sesama anggota Victim Esports, punya kisah lain. Setelah lulus SMA, ia tak terpikir lanjut kuliah. Kemahirannya main PUBG Mobile pun mengantarnya ke dunia eSport, yang kini disebutnya sebagai profesi.

"Ini pekerjaan saya. Saya bisa dapat gaji 2 kali UMR. Belum bonusnya," ujarnya.

Menurut Dika selaku manajer Victim Esports PUBG Mobile, manajemen memang rutin memberi gaji bulanan bagi para atletnya. Selain itu mereka juga bisa memperoleh bonus dari kompetisi.




"Jika menang, manajemen Victim hanya 10% saja dari total hadiahnya. Ada juga bonus berupa uang atau barang," terangnya.

Khusus untuk POMC 2019, manajemen Victim disebutnya tidak memungut sepeser pun jika timnya menang. Sekedar tahu, POMC 2019 tingkat Asia Tenggara menyiapkan hadiah US$ 400.000 untuk peringkat pertama. Belum lagi jika menang mereka lolos untuk ikut POMC 2019 tingkat global dengan total hadiah US$ 2 juta.

"Kompetisi seperti ini jadi ajang buat mereka untuk membuktikan bahwa ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Game bukan hanya buang-buang waktu dan masa depan," tuturnya.

Menurut Dika, saat ini sudah ada atlet eSport yang mampu memberangkatkan orangtua pergi haji. Padahal jauh sebelum itu dirinya kurang dapat dukungan sekitar, bahkan sampai diejek tetangga.

(das/krs)