Kamis, 29 Nov 2018 15:20 WIB

Laporan dari Singapura

Cerita Mentor Akselerator Google Bimbing Calon Kompetitor

Virgina Maulita Putri - detikInet
Para mentor di Google Indie Games Accelerator (Foto: Virgina Maulita Putri/detikINET) Para mentor di Google Indie Games Accelerator (Foto: Virgina Maulita Putri/detikINET)
Singapura - Google Indie Games Accelerator (IGA) telah dimulai sejak akhir bulan September. Program ini membimbing 30 developer game indie dari Asia Tenggara, India dan Pakistan.

Bimbingan dalam program ini diberikan oleh mentor-mentor yang berasal dari Google dan juga developer game indie lain yang telah merasakan sukses.

Contohnya Kamina Vincent dari Mountains Games Studio yang berbasis di Melbourne, Australia. Game pertama mereka, Florence, telah diunduh lebih dari 10.000 kali sejak dirilis pada bulan Maret lalu.




Ia pun tidak merasa tersaingi dengan developer indie baru yang ia bimbing, walaupun menurutnya mereka memiliki potensial untuk menjadi lebih sukses. Ia mengatakan bahwa ketika baru mulai ia pun banyak dibantu sehingga ia ingin melakukan hal yang sama.

"Ketika saya baru mulai, banyak orang yang meluangkan waktu mereka untuk membantuku. Dan mereka menjawab pertanyaan saya yang sangat mendasar," ujar Vincent dalam panel diskusi di kantor Google Asia Pasifik, Singapura, Rabu (28/11/2018).




"Dan industri di Australia saat itu baru saja mengalami restrukturisasi. Jadi banyak orang yang membagi pengetahuan mereka karena mereka tidak ingin melihat orang lain gagal,"

Kamina mengatakan bahwa ia tidak ingin memberi bimbingan semata cuma memberitahu developer apa yang mereka harus lakukan. Ia lebih memilih memberitahu mereka apa yang dulu ia lakukan dan berharap pengetahuan tersebut akan membantu mereka ke depannya.

Sementara Mark Skaggs, produser game ternama yang sebelumnya pernah bekerja untuk EA dan Zynga, juga tidak khawatir perusahaannya akan berebut pangsa pasar dengan developer indie yang ia bimbing. Ia pun tak sungkan berbagi pengalaman beratnya




Menurutnya, bisnis game tidaklah mudah untuk diarungi terutama bagi studio kecil. Itu menjadi salah alasannya untuk membantu mereka.

"Sisi lainnya, ini merupakan bisnis yang sulit dan sangat sulit untuk mejadi sukses. Jadi kadang kalian yang meminta bantuan, kadang kalian yanh memberikan bantuan," ujar Skaggs dalam kesempatan yang sama.

"Ini membentuk sense of peers yang kemudian ketika mereka telah lebih sukses mereka akan membantu kalian lebih banyak lagi," tuturnya.


(vim/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed