Istilah terbaru ini disebut Compulsive Gaming. Oleh WHO, istilah Compulsive Gaming ini sekarang diklasifikasikan ke dalam masalah kesehatan mental terbaru.
Menurut sebagian orang, inisiatif WHO ini akan membantu mengidentifikasi mereka yang terkena dampak kecanduan game sejak dini. Dr. Henrietta Boden-Jones, juru bicara dari Royal College of Psychiatrists mengatakan bahwa ini bisa menjadi solusi bagi orangtua dalam mendidik anak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menemukan orang tua yang putus asa, bukan hanya karena mereka melihat anak mereka putus sekolah, tetapi karena mereka melihat seluruh struktur keluarga berantakan," ujar Boden-Jones dikutip detikINET dari Ubergizmo, Selasa (19/6/2018).
Tentu saja, sama seperti klasifikasi WHO sebelumnya, ada beberapa yang tidak setuju dengan keputusan ini. Beberapa mengklaim bahwa gerakan ini berisiko mengstigmatisasi gamer muda.
Dr. Mark Griffiths yang telah melakukan penelitian dari konsep gaming disorder selama tiga dekade terakhir pun angkat bicara. "Video game adalah seperti semacam judi non-finansial dari sudut pandang psikologis. Penjudi menggunakan uang untuk menjaga skor, sedangkan gamer menggunakan poin," tuturnya.