Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Ketika Super Mario Jadi Guru Anak-anak

Ketika Super Mario Jadi Guru Anak-anak


Muhammad Alif Goenawan - detikInet

Foto: internet
Jakarta - Siapa yang tak gemas melihat sosok gembul Mario? Semua pasti suka, apalagi anak-anak. Maka tak heran jika maskot game Nintendo ini cocok didaulat jadi 'guru' yang menyenangkan.

Dan dari sejumlah judul game Nintendo, Super Mario Maker menjadi game yang paling baru dan populer untuk saat ini. Tak hanya bersifat menghibur, Nintendo pun yakin jika gamenya itu bisa menjadi edukasi tersendiri bagi anak-anak yang ingin belajar ilmu game design.

Keyakinannya itu pun diwujudkan melalui sebuah event game yang digelar bekerjasama dengan San Francisco Public Library. Bukan event game biasa yang bersifat hiburan, melainkan event yang diharapkan bisa membantu anak-anak untuk mempelajari ilmu merancang game.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Langkah ini dilakukan tak lain merupakan salah satu bentuk mendorong anak-anak di Amerika Serikat untuk mengerti dan tertarik dengan ilmu komputer dan digital. Namun, secara tegas Nintendo mengatakan bahwa ini semata-mata agar anak-anak terbiasa dan paham dengan rancang game.


"Kami sadar dengan tren coding yang telah melebur menjadi bagian dari kurikulum, tapi jelas Super Mario Maker bukan soal coding. Ini tentang rancang game. Kami melihat beberapa kesamaan di situ, banyak orang yang belajar coding dan bisa membuat game," terang juru bicara Nintendo Kit Ellis, seperti detikINET kutip Gamespot, Selasa (11/4/2016).

Meski coding juga diperlukan, lanjut Ellis, rancang game tetap menjadi poin kedua yang dibutuhkan oleh seorang pembuat game. "Anda bisa coding game tapi kemudian Anda harus belajar bagaimana membuat game yang menyenangkan. Dengan event ini, kami membantu anak-anak untuk belajar apa yang membuat game itu menyenangkan dan bagaimana mereka menggunakan balok di Mario untuk mewujudkan itu," lanjutnya lagi.

Menggunakan Super Mario Maker sebagai dasar, Nintendo memanfaatkan event untuk mengedukasi anak-anak mengenai konsep fundamental dari desain level, yakni tema, tingkat kesulitan, dan audiens. Setelah diberikan pengarahan, anak-anak itu dibagi menjadi tim dimana mereka diberi tugas untuk membuat levelnya masing-masing dalam hitungan jam. (mag/rou)
TAGS







Hide Ads