Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
Kaya dari Game? Bisa Saja, Asal..

Kaya dari Game? Bisa Saja, Asal..


Muhammad Alif Goenawan - detikInet

(Alif/detikINET)
Jakarta -

Sebagian dari Anda mungkin beranggapan bahwa bermain game adalah kegiatan yang membuang-buang waktu. Tidak salah bila memiliki pandangan seperti itu, tapi semuanya kembali lagi dari sudut pandang dan bagaimana memanfaatkannya.

Evil Geniuses misalnya. Tim eSports DotA 2 asal Amerika Serikat yang baru saja menjuarai turnamen DotA 2 International Championship 2015 ini, berhasil meraup USD 6,6 juta atau sekitar Rp 85 miliar. Yang menarik, dari lima orang anggota Evil Geniuses, ada salah satu personilnya yang bernama Sumail "Suma1L" Hassan Syed yang baru menginjak usia 16 tahun.

Sementara kebanyakan anak sebayanya masih meminta uang jajan kepada orangtua, Suma1L justru sudah menjadi seorang miliarder. Dari hasil pembagian tim, bocah berkebangsaan Pakistan itu diperkirakan menerima estimasi uang senilai USD 1,6 juta atau sekitar Rp 22 miliar!

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Suma1L mungkin hanya sebagian contoh kecil dari kehidupan para gamer profesional. Profesi yang mungkin masih diaggap remeh oleh sebagian orang. Itu jika di luar negeri. Lalu bagaimana kondisi dan situasi di Indonesia?

Di Indonesia sendiri, profesi gamer bisa dibilang masih abu-abu. Artinya, bisa sukses bisa juga tidak. Salah satu contoh sukses dari negeri sendiri adalah Team NXL>, organisasi eSports (olahraga elektronik) yang sukses menjuarai berbagai macam turnamen Counter-Strike 1.6 dan Global Offensive skala nasional dan internasional.

Dengan rata-rata usia tergolong masih muda, mereka sudah bisa menghasilkan pendapatan, entah dari kejuaraan ataupun sponsor dari berbagai macam vendor. Dari hasil bincang-bincang dengan sang ketua, Richard Permana, timnya saat ini telah mengantungi jutaan rupiah dari hasil kejuaraan dan sponsorship. Namun Richard enggan merinci berapa nilainya.

"Untuk bisa sukses itu perlu beberapa faktor. Yang jelas, harus perbanyak porsi latihan biar menang di kejuaraan. Dan tunjukkin bahwa tim lo bisa berprestasi. Dengan begitu, sponsor akan datang dengan sendirinya," ujar Richard kepada detikINET.

Mengantungi sejumlah sponsor saja menurutnya tak cukup. Dikatakannya, sponsorship kerap menjadi hambatan bagi ia dan timnya untuk berlaga di kejuaraan dengan skala yang lebih luas lagi, yakni Eropa dan Amerika.

Ya, rata-rata dari gamer profesional Indonesia selalu mentok di laga pertandingan skala Asia Tenggara (SEA). Bahkan, tak jarang tim eSport Indonesia yang keok ketika berlaga di kancah Asia Tenggara.

"Sponsorship di Indonesia masih memble. Tidak seperti di luar negeri. Malahan selain sponsorship, ada juga invenstor yang berani berinvestasi untuk tim eSport," papar Richard.

Lain lagi pendapat Tribekti Nasima. Pengamat DotA 2 Indonesia ini berpendapat bahwa hambatan juga datang dari lemahnya koneksi internet di Indonesia. Belum lagi tarif yang cukup mencekik bagi yang ingin menikmati internet cepat.

Tribekti pun memberi contoh lewat platform streaming game, Twitch. "Di Indonesia dengan koneksi internet yang seadanya, tentunya streaming platform masih susah untuk dinikmati. Hal ini jelas mengurangi audience eSport yang akhirnya membuat sponsor lokal belum seberani sponsor-sponsor di luar negeri," papar Tribekti panjang lebar.

Sebaliknya, lanjut Tribekti, apabila infrastruktur internet sudah membaik, tentunya media hiburan game macam Twitch dan YouTube Gaming akan lebih mudah dinikmati dan bukan tidak mungkin jika bermunculan konten lokal.

"Saat itu lah dengan sendirinya industri eSports lokal akan bergelimpang uang dan mencapai titik tertinggi hingga layak untuk dijadikan tujuan berkarir," pungkasnya.

(rns/rns)







Hide Ads