Kategori Berita
Daerah
Layanan
Detik Network
detikInet
'Pergi Pagi Pulang Pagi' Demi Jadi Pebalap Nissan GT Academy

'Pergi Pagi Pulang Pagi' Demi Jadi Pebalap Nissan GT Academy


Yudhianto - detikInet

Jakarta - Sebanyak 20 finalis telah terpilih ke putaran final kompetisi Nissan GT Academy. Masing-masing gamer pun punya cerita unik ketika mengikuti proses audisi online maupun audisi offline di mal di Jakarta dan Surabaya.

Gamer pertama yang berbagi pengalamannya adalah Kresna, remaja 18 tahun ini mengaku tak punya konsol PlayStation 3 untuk memainkan game Gran Turismo yang dikompetisikan di Nissan GT Academy. Kresna mengaku sehari-harinya memainkan game Gran Turismo via komputer melalui emulator, itu pun dimainkannya menggunakan keyboard, bukannya stik kontroler apalagi steering wheel.

Tapi nyatanya itu tak menghambat Kresna, setelah tahu ada kompetisi Nissan GT Academy yang dilihatnya di Detikcom dan Trans7, remaja yang tinggal di Jakarta Barat ini bertekad mati-matian mengikutinya. Gelaran Nissan GT Academy di mal Taman Anggrek jadi target pertamanya unjuk kebolehan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

β€œSaya mendatangi kompetisi Nissan GT Academy selama tujuh hari penuh di mal Taman Anggrek. Saya datang dari pagi jam 10 dari mulai kompetisi dibuka, sampai jam 10 malam ketika kompetisi ditutup. Begitu juga dengan yang di mal Kelapa Gading, saya juga datangi terus hampir selama tujuh hari gelarannya,” ujar Kresna, di Hotel Lorin, Sentul, Jawa Barat.

Demi hal tersebut, Kresna harus berangkat cukup pagi untuk sampai ke lokasi kompetisi. Begitu pun pulangnya, karena bertahan hingga kompetisi selesai, Kresna baru menjejakkan kakinya lagi di rumah menjelang dini hari. Semua ini dilakukannya demi mewujudkan cita-citanya yang ingin menjadi pebalap.

Lain lagi cerita dari finalis asal Pramuka, Jakarta Timur, bernama Suryo. Selain memang hobi memainkan game Gran Turismo, remaja yang tengah menempuh kuliah semester V ini nyatanya juga merupakan seorang drifter. Namun sebagai drifter, Suryo melakukannya sebatas hobi. Ia belum pernah mengikuti ajang kompetisi drift yang resmi.

β€œAlasan saya mengikuti kompetisi Nissan GT Academy ini salah satunya adalah untuk mengasah skill, selain memenuhi cita-cita jadi pebalap tentunya. Mumpung ada kesempatan,” kata Suryo.

Cerita tak kalah menarik juga datang dari gamer paling tua di putaran final kompetisi Nissan GT Academy. Bernama Teuku latief, gamer yang satu ini tercatat telah berusia 41 tahun. Tapi meski tak lagi muda, Teuku mengatakan tak akan mau begitu saja dikalahkan di putaran final Nissan GT Academy.

β€œPertama kali mendatangi audisi offline di mal, saya jadi nggak pede karena melihat gamer lainnya masih pada muda-muda. Niatnya mau pulang saja, tapi akhirnya lanjut. Sebenarnya saya nggak optimis lihat lawan yang muda-muda, tapi saya juga tak mau kalah,” ucap Teuku.

Teuku sendiri mengaku sudah lebih dari satu dekade memainkan game balap Gran Turimo. Hal ini yang dijadikannya sebagai penantang untuk mengikuti kompetisi Nissan GT Academy. Teuku mengatakan baru memainkan game Gran Turimo pada tahun 2001 silam.



(yud/ash)







Hide Ads