"Industri game Indonesia ini lagi tumbuh dan lagi asyik-asyiknya. Kita sesama developer game bisa saling bantu dan membangun industri ini bareng," kata Eldwin Viriya, pentolan Own Games Studio.
"Saya senang banget bisa ikut meramaikan dan jadi bagian dari industri ini. Itu yang bikin tetap semangat bikin game," sambungnya usai menerima kemenangan Mobile Games Developer War yang digelar Nokia Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dikatakan Eldwin, hadiah yang didapat dari kompetisi yang diikuti 1.400 developer ini akan digunakan untuk pengembangan game mereka selanjutnya. Nah, seperti apa permainan 'Eyes on Dragon' itu sendiri?
Game yang sudah di-download 60 ribu kali dalam satu bulan perilisannya ini menampilkan karakter bernama Tako. Dia ditugaskan menjaga seekor naga dengan tongkat sihirnya, namun tertidur. Alhasil, si naga pun kabur dan Tako ditugasan mengejarnya. Sebagai gambaran, permainannya mirip seperti Temple Run.
"Tako disuruh mengejar naga sambil mengumpulkan koin. Cara memainkannya diarahkan kanan dan kiri, swipe untuk melompat atau meluncur seperti ini," kata Eldwin sambil mendemokan gamenya.
Sederhana namun mengasyikkan menjadi daya tarik game ini. Menariknya lagi, game yang bisa di-download gratis ini menawarkan in app purchase. Gamer bisa membeli benda virtual berupa koin atau senjata untuk menambah kekuatannya.
Bersama empat anggota tim lainnya, Jefvin, Agustian, Okky dan Ray, Eldwin mengembangkan game ini selama 1,5 bulan. Diakuinya, tantangan membuat game adalah membuat gamenya seimbang.
"Biar player bisa merasa nyaman dan makin lama main gamenya. Secara teknis kode dan desain, memang ada kesulitannya juga. Tapi yang paling menantang sih bikin gamenya bisa balance," terangnya.
Pemuda asal Bandung ini pun berbagi tips bagi yang ingin membuat game. Langkah pertama menurutnya adalah mencari tim yang cocok dan sama-sama punya minat di game.
"Mulai belajar coding, atau mencari teman yang bisa coding. Cari juga yang bisa art. Kalau sudah ketemu tim yang cocok, sering-sering bikin game bareng. Mulai dari bikin beberapa prototype," ujarnya membuka rahasia.
Dari prototype ini kemudian dicari yang terbaik, lalu dikembangkan lagi dengan penambahan fitur-fitur seperti grafis, musik dan lain-lain. Lebih jauh lagi, jika mau serius masuk di industri game, maka lebih banyak lagi pekerjaan rumah yang harus dilakukan.
"Harus sudah bisa bikin game dulu. Dari sana, mulai pikirkan user, siapa yang bakal main. Baru mulai tentukan genre, desain, dan lainnya. Biar gamenya juga bisa dijual. Tidak cuma sekedar asal jadi saja," tutupnya.
(rns/rou)