Hal itu dikemukakan Wimindra Lee, salah satu pengembang di studio Lucidrine yang berada di balik game Cube Colossus. Kepada detikINET, Rabu (10/2/2009), Lee menuturkan bahwa game itu berawal dari sebuah game karya anak SMA di tahun 2008.
Ketika itu, ujar Lee, dirinya melihat seorang anak SMA bernama Fandrey yang membuat game dengan judul Voidgale. Seluruh unsur dalam game itu, lanjut Lee, dibuat oleh Fandrey sendiri mulai dari grafis hingga pemrograman Flash-nya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dalam development-nya konsep berkembang jauh dari initial design. Karena terlalu lama waktu develop-nya dan kesibukan masing-masing, kami terkena sindrom burned out (jenuh) dan proyek ini sempat terbengkalai," tuturnya.
Nah, di tahun 2009, tim Lucidrine memutuskan untuk kembali menggarap game tersebut bertepatan dengan libur sekolah Fandrey. Pada Agustus 2009 lahirlah game Cube Colossus.
Ternyata, papar Lee, game itu disambut baik oleh komunitas gamer dunia. JayIsGames, situs pengulas game flash ternama, pun mengulas game tersebut dan memberikan pujiannya. Komunitas di portal-portal game flash seperti Kongregate dan NewGrounds pun menyambut Cube Colossus dengan baik.
Sebagai finalis, tim Lucidrine pun sebenarnya mendapatkan undangan untuk menghadiri ajang The Mochis dalam Flash Gaming Summit 2010. "Namun karena tempatnya di San Francisco dan terlalu mahal untuk ke sana, kami memutuskan untuk meminta teman kami yang ada di sana untuk menggantikan," ia menandaskan.
Ingin menunjukkan dukungan pada karya kreatif ini? The Mochis juga memberi kesempatan pengguna internet untuk memilih di kategori People's Choice Award. Kunjungi situs Flash Gaming Summit 2010 untuk menyampaikan pilihan Anda. (wsh/wsh)