Belajarlah dari Langit, dari Bintang yang Cemerlang

Tips Komposisi Foto

Belajarlah dari Langit, dari Bintang yang Cemerlang

Ari Saputra - detikInet
Kamis, 28 Jul 2016 11:12 WIB
Menunggu sidang. Memanfaatkan perbedaan ekpresi menjadi nilai tersendiri, bukan? (Foto: detikINET/Ari Saputra)
Jakarta - Lihat langit malam yang dipenuhi gugusan bintang. Cuma bintik-bintik kecil yang acak tak beraturan, bergerombol dan nyaris tanpa pola. Namun tidak bagi para ahli perbintangan sejak ribuan tahun lalu.

Di antara jutaan bintang tersebut terdapat bintang yang menonjol dengan letak yang konsisten. Jika ditarik penghubung terdapat garis-garis imajinatif. Garis khayalan tersebut menjadi dasar para ahli membuat visualisasi rasi bintang dan dinamakan sesuai gambar yang diangan-angankan. Sebut saja beberapa contoh seperti scorpio (kalajengking), leo (singa), dan pisces (ikan).

Apakah garis di langit tersebut benar-benar membentuk gambar kalajengking, singa atau ikan? Tentu tidak. Persepsi manusia lah yang menerjemahkan garis tersebut menjadi seolah-olah gambar kalajengking, singa atau ikan. Yang berkembang menjadi mitos, dongeng, keyakinan, ramalan atau sebaliknya yang ilmiah dan masuk akal.

Dengan trik persepsi serupa, fotografer dapat meminjamnya untuk membuat komposisi yang fotogenik. Terutama ketika memotret sesuatu yang terlihat acak dan membingungkan menjadi sesuatu yang mudah dicerna dan nyaman dilihat. Tentu tidak serumit rasi bintang melainkan cukup merangkai beberapa subjek foto dalam sebuah garis komposisi yang dinamis.

Misalkan pada foto senja di Lombok yang saya jepret beberapa waktu lalu. Saya menggunakan 5 teman yang sedang memotret matahari tenggelam sebagai model. Saya sengaja meminta posisi mereka tidak dalam satu garis lurus namun naik-turun. Tidak lain untuk membuat efek visual yang lebih dinamis. Sekaligus 'meminta' pembaca untuk menerjemahkan 'garis' antar subjek sesuai sesuai khayalan masing-masing layaknya rasi bintang.
Senja di Senggigi, Lombok.Memotret dengan subjek yang bisa diseting mensyaratkan konsep yang kuat. (Ari Saputra/detikcom)

Strategi yang sama dilakukan untuk memotret Infinity Pool di puncak Marina Bay Sands Hotel, Singapura. Di tempat tersebut terlihat bentang kota yang sangat luas namun dibatasi oleh garis horizon langit dan bibir kolam renang. Para tamu hotel bermain air, berenang atau sekedar menghabiskan waktu di kolam renang itu.

Terdapat belasan elemen fotografi yang saling beradu pengaruh dan perhatian. Misalkan deretan gedung, garis horizontal, manusia yang hilir mudik di kolam, awan, elemen garis, warna hingga tekstur dan cahaya.
Infinity Pool. Memotret urbanscape itu mudah jika sudah dapat mengontrol elemen fotografi. (Ari Saputra/detikcom)

Namun dengan bantuan titik-titik imajiner layaknya bintang di langit, maka yang berantakan tersebut bisa terlilhat lebih harmonis, berpola, sederhana, dan nyaman dilihat. Sesuatu yang tadinya porak-poranda secara visual dapat tersusun menjadi sebuah harmoni rasa yang menarik dan terkontrol.

Tipsnya, tentukan subjek utama terlebih dahulu. Kemudian tunggulah hingga antar subjek tersebut membentuk rangkaian garis yang dinamis sesuai khayalan yang diinginkan. Jika masih sulit, cobalah berganti spot atau angle pemotretan. Bersabar dan telaten menjadi keharusan.

Saatnya berburu bintang di langit malam.
Garis bantu imajiner untuk merangkai komposisi yang nyaman dan enak dilihat. (Ari Saputra/detikcom)



(Ari/ash)