Cara Efektif Bermain External Flash dengan Mode Otomatis

Tips Fotografi

Cara Efektif Bermain External Flash dengan Mode Otomatis

Ari Saputra - detikInet
Senin, 27 Jun 2016 10:24 WIB
Fungsi otomatis yang ditunjukkan dengan tulisan ETTL pada external flash Canon dan berbagai sudut flash yang bisa digunakan. (Foto: detikINET/Ari Saputra)
Jakarta - Saat hendak bermain external flash, fotografer akan dihadapkan pada pilihan mode penggunaan yang ekstrim: manual ataukah otomatis. Pilihan pertama, biasanya dilakukan pada pemotretan yang terjadwal, model ataupun saat bermain strobist.

Sementara pada mode otomatis menjadi pilihan paling cerdik untuk menangkap momen tanpa harus kehilangan kualitas. Sebut saja untuk kebutuhan dokumentasi, event hingga foto berita. Nah, pertanyaannya bagaimana memaksimalkan flash pada mode otomatis supaya mendapatkan gambar yang maksimal?

Pertama, perhatikan dimensi ruangan. Sebab volume ruang pemotretan sangat mempengaruhi kemampuan flash. Semakin kecil ruangan seperti di kamar hotel atau ruang rapat terbatas maka kemampuan flash mampu tampil prima. Sebaliknya, ruangan yang luas dan besar --- seperti ballroom hotel atau outdoor -- membuat flash harus bekerja keras sampai mendapatkan hasil terbaik.

Kedua, perhatikan jarak external flash dengan subjek. Pada umumnya, lampu flash akan bekerja efektif pada jarak 3 hingga 5 meter. Lebih dekat dari itu subjek menjadi overexpose alias terlampau terang. Sebaliknya jarak yang terlampau jauh cenderung menghasilkan gambar underexpose atau gelap.

Pastikan target pemotretan pada rentang yang memungkinkan jika hendak menggunakan mode otomatis pada flash external. Ada baiknya membaca buku manual external flash untuk mengetahui kekuatan efektif lampu kilat Anda. Tiap merek dan tipe biasanya mempunyai kekhususan tersendiri

Ketiga, pergunakan ISO yang memadai. ISO ini terkait dengan dua hal di atas: kondisi ruang dan jarak pemotretan. ISO rendah biasanya digunakan pada ruang yang memadai seperti dalam meeting room, di dalam rumah atau pemotretan outdoor.

Sementara ISO tinggi (lebih dari ISO 2000) dapat dimanfaatkan pada kondisi ekstrim seperti malam hari, pada ruang yang luas dan jarak pemotretan yang jauh seperti di ballroom hotel.

Satu paket dengan ISO yakni speed yang memungkinkan kamera menangkap cahaya lampu flash. Pada umumnya rana kamera akan menangkap cahaya flash pada kecepatan 1/60 hingga 1/180 detik. Beberapa kamera berbeda namun tidak jauh dari batas bawah dan batas atas tersebut. Jika terlalu pelan gambar menjadi overexpose sementara terlalu cepat gambar menjadi gelap atau separuh hitam separuh gelap.

Supaya tidak terjebak pada hitung-hitungan teknis Anda bisa menggunakan mode pemotretan otomatis. Atau bisa menggunakan mode pemotretan TV (time priority) seperti yang biasa saya pergunakan.

Jadi saya menetapkan speed yang saya inginkan setelah sebelumnya saya menentukan ISO kamera. Sementara diafragma akan menyesuaikan secara otomatis lantaran mode TV telah mengunci di sistem kamera.

Usai menetapkan segitiga exposure tersebut, tinggal langkah keempat yakni menentukan sudut cahaya dari flash menuju subjek. Kenapa sudut cahaya itu perlu dipikirkan tidak lain karena sangat mempengaruhi karakter subjek foto. Cahaya yang frontal dari depan dengan dipantulkan terlebih dahulu tentu menghasilkan bayangan dan tekstur yang berbeda.

Untuk mengetahui perbedaan tersebut saya membuat simulasi pada foto model dengan ISO 800 dan speed 1/180. Foto pertama dan kedua adalah menggunakan sudut pencahayaan dari depan model.
Hasil foto dari simulasi sudut lampu external flash yang berbeda. (Ari Saputra/detikcom)

Perbedaannya, pada foto pertama tidak dilapisi diffuser sehingga menghasilkan karakter bayangan lebih kuat dan area terang lebih terfokus pada bagian tangan dan kisaran hidung hingga dada. Namun pada foto kedua, dengan menambahkan diffuser, cahaya yang jatuh pada subjek menjadi lebih lembut. Bayangan tidak sekeras pada foto pertama.

Foto ketiga dihasilkan dengan menggeser sudut cahaya external flash pada sudut 180 derajat alias dihadapkan ke langit-langit ruangan. Cahaya pun memantul ke plafon dan menyebar merata ke subjek. Trik ini menghasilkan gambar yang lembut dengan bayangan tidak terlampau keras. Warna dan tekstur juga masih bisa dinikmati dengan apik.

Pada foto keempat dihasilkan dari sudut external flash 45 derajat. Cahaya memantul sebagian ke tembok dan langit-langit ruangan dan hanya sebagian kecil langsung jatuh ke subjek.

Hasilnya lebih 'renyah' atau beberapa fotografer bilang lebih crispy. Yakni perpaduan warna yang mulai terdistorsi dengan bayangan lembut dan keras bercampur tekstur yang menonjol membuat sudut serong 45 derajat tidak bisa diabaikan.

Dari simulasi tersebut sudut manakah yang paling ideal? Tidak ada jawaban pasti karena pada praktiknya tergantung pada tujuan, kebutuhan dan kondisi di lapangan. Misalkan pada foto ogoh-ogoh, maka menggunakan sudut cahaya frontal depan menjadi pilihan karena kondisi gelap saat itu.
Pawai ogoh-ogoh di Monas dengan sudut external flash frontal mengarah ke subjek. (Ari Saputra/detikcom)

Sebaliknya pada suasana lebih terkontrol dan hendak menonjolkan karakter subjek maka sudut 45 derajat lebih efektif seperti pada foto Sandiaga Uno dan Prasetio Edi Marsudi.

Pada kasus lain saat ingin menonjolkan fashion dan mendapatkan warna, tekstur dan garis yang akurat, sudut 45 derajat saya tinggalkan. Sudut cahaya berganti pada 180 derajat (bouncing ke atas) seperti pada foto Zaskia Adya Mecca untuk tujuan tersebut.

Foto kiri atas dan kiri bawah menggunakan sudut external flash 45 derajat, foto kanan menggunakan sudut 180 derajat (bouncing ke langit-langit ruang). (Ari Saputra/detikcom)
(Ari/ash)