Menyortir Foto Paling Menarik Pasca Pemotretan

Tips Fotografi

Menyortir Foto Paling Menarik Pasca Pemotretan

Ari Saputra - detikInet
Senin, 09 Mei 2016 10:22 WIB
20 foto Gubernur DKI Jakarta Ahok saat meresmikan RPTRA di Jakarta Utara. Semua relevan, tapi mana yang paling menarik ? (Foto: detikINET/Ari Saputra)
Jakarta - Saat berburu foto dan menemukan sesuatu yang menarik dapat membuat 'beringas' siapa saja. Memencet shutter dengan membabi buta dalam berbagai angle maupun posisi.  Bukan tidak mungkin satu adegan bisa menghasilkan 5 sampai 10 frame dalam hitungan detik.

Setelah foto-foto itu dipindahkan ke komputer, mulailah mata mereview foto-foto tersebut. Terkadang menyenangkan tapi di lain waktu justru bingung sendiri. Bahkan, untuk memilih satu foto guna diunggah ke sosial media atau portfolio menjadi ragu-ragu dan tidak yakin atas pilihannya.

Jika sudah demikian, maka ada beberapa trik untuk menyortir foto  sehingga menghasilkan pilihan terbaik:

Pertama, buatlah folder per tema. Mengelompokkan foto dalam tema yang sama misalkan street photography, arsitektur, selfie, dan lainnya mendorong mata membuat skala prioritas yang produktif. Dengan cara yang agak berbeda, kebiasaan membuat hashtag di media sosial ikut membantu pekerjaan tematik seperti ini.  

Kedua, sortir foto-foto yang tidak tajam, blur atau backlight. Bisa langsung dihapus, bisa dipertahankan. Siapa tahu bakal diperlukan suatu saat. Selain itu, 'foto-foto rusak' dapat menjadi sarana intropeksi dan media pembelajaran seiring waktu. Kalau saat ini masih blur atau tidak fokus, pada pemotretan berikutnya hindari kesalahan yang sama.

Ketiga, cari cerita utama dalam setiap foto dengan menentukan subjek foto terlebih dahulu. Subjek ini -- dalam istilah lain disebut point of interest -- yang nantinya akan menjadi kunci suatu penokohan, karakter dan cara bertutur sebuah foto.

Tepatlah dalam memilih subjek karena bakal menentukan cerita utama bahkan judul foto. Jangan sampai keliru karena akan menjadi multitafsir dan salah persepsi para pembaca/audiense.  
Keasyikan berburu streetphotpgraphy di Jepang menghasilkan 12 frame dari titik ini saja. Menyortir menjadi satu yang terbaik merupakan proses kreatif yang menyenangkan. (Ari Saputra/detikcom)

Keempat, perkuat cerita dengan koreksi minor misalkan cropping, burning atau dodging. Cropping bermanfaat untuk memperkuat subjek, membangun komposisi, cerita dan drama.  

Begitu pula dengan burning atau dogging yang dapat mengatasi area over /underexposure sehingga pencahayaan lebih stabil dan terukur. Beruntunglah saat ini banyak software atau aplikasi yang mempermudah fase editing sehingga makin mudah.

Kelima, kerucutkan lagi menjadi segelintir foto yang menyisakan pilihan terbaik sesuai kebutuhan maupun fotografi. Patokannya, buatlah alasan-alasan yang paling masuk akal dan tidak hanya sekedar 'like or dislike'. Jika perlu, buatlah diskusi maupun perdebatan dalam diri sendiri kenapa satu foto itu yang dipilih.

Misalkan kenapa foto pilihan tersebut menarik, kenapa bukan yang lain. Apakah kekuatan foto yang dipilih dan apa yang patut ditonjolkan. Bagaimana reaksi orang lain jika melihat foto ini dan pertanyaan-pertanyaan lain yang relevan.  

Dari pertanyaan tersebut bakal mendorong nalar kritis menilai sebuah foto, bahkan foto yang dihasilkan sendiri. Sehingga pada suatu fase Anda tidak sekedar fotografer namun mempunyai kemampuan menilai dan mengkurasi foto yang dihasilkan. Proses menemukan satu frame terbaik pun menjadi proses kreatif yang menyenangkan dan membuat ketagihan.  
12 foto kereta wisata di pegunungan Jungfraujoch, Swiss. Sekilas tampak sama, perbedaannya pada subjek yang hendak ditonjolkan. (Ari Saputra/detikcom)
(Ari/ash)