Rahasia Murah Meriah Foto Interaktif

Tips Fotografi

Rahasia Murah Meriah Foto Interaktif

Ari Saputra - detikInet
Jumat, 29 Apr 2016 07:14 WIB
Petani Gunung Halimun, Jawa Barat (2010). Canon EOS 30D, ISO 400, Speed 1/320, f/6,3. (Foto: detikINET/Ari Saputra)
Jakarta - Untuk mendapatkan foto maksimal saat traveling, street photography atau human interest diperlukan kesabaran, percaya diri dan kemauan komunikasi dengan subjek. Syarat tersebut akan terlihat dari hasil foto nantinya.

Seperti saat memotret di jalanan Yokoyama, saya menyapa lima gadis Jepang. Saya bertanya seputar jalan yang ramai kepada mereka. Di penghujung cerita saya meminta izin untuk memotret.

Tiga orang langsung menyatakan iya, dua lain merasa keberatan. Saya pun hanya memotret tiga gadis kawaii tersebut dan tidak memaksakan dua yang lain.  
Tiga gadis kawaii, Yokohama (2016). Fujifilm X100T ISO 2000, Speed 1/100, f/5,6.

Metode yang hampir mirip saya praktikkan di Bukit Malimbu, Senggigi, Lombok. Saat itu saya terpesona hamparan pantai nun jauh di bawah sana. Juga puluhan anak muda yang memarkir kendaraan di bahu jalan dan menikmati senja Malimbu yang hangat.

Saat menengok ke belakang saya melihat juru parkir dengan pose yang cukup fotogenik: berkacak pinggang, sarung yang dililitkan di perut, bertopi koboi dan melihat arah matahari. Saat itu cahayanya mulai menguning dengan background eksotik perbukitan Malimbu. Spontan saya langsung memotret momen tersebut.

Sejurus kemudian saya mendekati pria itu dan mengenalkan diri. Mencoba bertanya apa yang ia lakukan dan kenapa bukit ini ramai. Setelah tidak canggung saya tunjukan hasil jepretan colongan tadi dan menyatakan kalau dia tidak keberatan.
Juru parkir Malimbu, NTB (2011). Canon EOS 550D ISO 400, Speed 1/320, f/5,6.

Dua pengalaman tersebut bukan menjadi patokan menghasilkan foto yang menarik. Terkadang cukup candid alias curi-curi, lain waktu butuh improvisasi yang tidak sama. Benar-benar situasional. Kendati begitu ada kesamaan pola yang tak bisa diabaikan.

Pertama, kenalkan diri, bersikap sopan dan jangan takut untuk memulai pembicaraan. Sebab subjek yang akan dijepret bukanlah benda mati tanpa ekpresi. Mencoba menyapa dengan tulus membuat subjek merasa lebih nyaman. Jika komunikasi sudah lancar, aktivitas memotret bisa diteruskan.

Kedua, jawablah pertanyaan subjek yang baru ditemui dengan jujur. Pertanyaan paling sering dijumpai yakni untuk apa hasil foto itu nantinya. Pertanyaan tersebut tentu sangat berdasar karena menyangkut privasi dan pribadi orang tersebut.

Jangan mundur bila diserang dengan pertanyaan itu. Jawablah sesuai yang sedang Anda lakukan. Misalkan sedang belajar fotografi, mencoba kamera baru atau sekadar turis yang senang memotret.

Ketiga, usahakan untuk tidak menyogok guna memperoleh foto yang diinginkan. Iming-iming uang yang diberikan memposisikan hubungan fotografer dan subjek serupa dengan hubungan transaksional ekonomi. Alhasil, foto menjadi terlihat artifisial dan kurang natural.

Kalaupun calon subjek yang akan difoto keberatan, jangan memaksa. Carilah spot lain hingga bertemu seseorang yang mau difoto dengan rileks dan nyaman. Oh iya, poin ini tentu patut diabaikan pada foto-foto komersial maupun stok photo.
Senior citizen, Austria (2015).Nikon Df ISO 1000, Speed 1/500, f/3,5.

Keempat, jangan direpotkan dengan urusan teknis kamera. Lakukan segala sesuatunya dengan cepat dan ringkas. Selain karena subjek bukanlah model profesional, terlalu repot dengan urusan teknis seperti pengaturan aperture atau speed bisa membuat subjek kurang percaya diri. Posisikan subjek sebagai sesuatu yang sangat penting dan menjadi kunci sukses-tidaknya foto yang sdang dibuat.

Sebelum mengakhiri jangan lupa ucapkan terima kasih. Jika perlu berikan tanda mata yang menyenangkan seperti mengirim salinan foto tersebut ke emailnya. Atau jika mempunyai kamera instan, gunakan hasil foto langsung jadi tersebut sebagai kenang-kenangan yang menyenangkan. (Ari/ash)