Memotret Manekin Berbalut Fashion Nan Cantik

Tips Fotografi

Memotret Manekin Berbalut Fashion Nan Cantik

Ari Saputra - detikInet
Rabu, 06 Jan 2016 10:17 WIB
Manekin di Bahnofstrasse Zurich. (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Bagi perempuan, tulisan 'SALE' membuat jantung bergetar saban melintas di depannya. Namun bagi sebagian pecinta fotografi, deretan manekin di belakang 'SALE' itulah yang biasanya lebih menarik.

Ia mampu memberi alasan untuk memencet shutter, merekam tren, fashion dan cita rasa seni yang tercuplik dalam manekin yang asik dan menarik -- lengkap dengan adi busana yang dikenakan.

Di sebuah distrik mewah di pusat perbelanjaan Zurich Swiss, seorang turis memperhatikan manekin yang memamerkan baju musim dingin. Ia, dan warga kota yang lain silih berganti melihat dengan detail pilihan syal, sepatu, baju, jaket, celana, topi dan baju hangat untuk mengusir cuaca minus.

Matanya menyisir setiap potongan, motif, warna dan bahan material yang digunakan. Kemudian, seperti jamak dilakukan di kota itu, akan berbisik dengan teman-temannya seolah sedang melihat karya seni di galeri. Mata-mata mereka tidak bisa menyembunyikan kekaguman dan sikap hormat pada karya fashion yang dipamerkan meski tidak ada tulisan 'SALE' pada display toko tersebut.

Bagi fotografer, antusiasme yang kira-kira sama bisa ditunjukan dengan merekam apik deretan manekin itu. Fotografer dituntut untuk memberi pernyataan yang inspiratif lewat bahasa gambar. Tidak sekadar foto numpang lewat namun mampu menangkap aura, semangat dan ide para disainer yang membungkus manekin tersebut.


Keterangan foto: Cerah berwarna di sebuah butik di Union Square, San Francisco. (Ari Saputra/detikcom)

Bagaimana Mendapatkannya?
 
Pertama, manekin itu bukan model cantik yang melintas di catwalk. Ia hanya patung yang didandani. Akibatnya, manekin tidak sehidup model sungguhan namun bisa dipotret seolah-olah hidup.

Anda bisa menemukan 'kehidupan' dalam manekin tersebut lewat mata patung peraga itu. Gunakan mata patung tersebut sebagai titik permulaan sebelum beralih ke adi busana yang dipamerkan ataupun gestur (bahasa tubuh) si manekin. Lantas beri sentuhan suasana toko atau kota untuk menempatkan konteks yang lebih luas dan dinamis.

Sebagai catatan, beberapa butik dan rumah mode sampai perlu menyewa seniman untuk merancang manekin sesuai dengan gaya fashion yang ingin ditampilkan. Tidak jarang memadupadankan sedemikian rupa sehingga manekin itu tidak berdiri sendiri melainkan tampil kontemporer atau bergaya instalasi.

Jika menemukan subyek foto yang demikian, itu adalah keuntungan yang harus dieksplore untuk membuat foto manekin lebih hidup dan tidak biasa.

Kedua, ceritakan keindahan fashion yang membungkus manekin tersebut dengan kebutuhan masing-masing fotografer. Dapat bergaya reportase, foto fashion, atau street photography.

Apapun itu, fotografer bisa memotret dengan playfull (ceria) atau sebaliknya: serius dan konservatif. Dapat memotret dengan indah lewat permainan warna yang harmonis atau membuatnya kaku dan monoton lewat permainan foto hitam-putih.

Dalam titik ini, fotografer persis seperti para turis yang mendiskusikan manekin tersebut dari balik kaca display. Bedanya, fotografer membuat pernyataan lewat bahasa gambar sementara para turis atau warga lokal tersebut melalui pendapat verbal.


Keterangan foto: Adibusana yang dipajang di perbelanjaan Myeongdong, Seoul. (Ari Saputra/detikcom)

Ketiga, perhatikan cahaya/bayangan. Sebagian besar manekin akan disorot oleh lampu spot untuk menghidupkan fashion yang dikenakan. Sebagian lagi memilih lampu continues shoot yang lebih merata dengan bayangan yang lebih halus.

Secara kasat mata, lampu sorot itu menghasilkan efek yang menarik. Namun secara fotografi mengakibatkan perbedaan gelap-terang (kontras) yang sangat besar. Jika fokus ke area yang terang, gambar akan gelap (under). Sebaliknya jika fokus ke bagian yang gelap, foto akan terlalu terang (over exposure).


Keterangan foto: Displai unik Ermenegildo Zegna di 5th Avenue, New York. (Ari Saputra/detikcom)

Solusinya, bisa mengubah sudut pengambilan gambar sampai menghasilkan takaran exposure yang tepat. Dapat pula dengan menggeser autofokus ke fokus manual. Kalau tidak mau repot, serahkan pada mode P atau Automatis dan biarkan sistem kamera bekerja menyelesaikan masalah tersebut. Alternatif lain yakni dengan manfaatkan perbedaan exposure tersebut untuk membentuk manekin lebih berdimensi.

Selebihnya, biarkan nalar kreatif Anda mendorong mata dan tangan menemukan angle terbaik merekam fashion yang menempel di manekin-manekin kota. Yang berdiri mentereng di balik kaca butik mewah di Bahnofstrasse Zurich, 5th Avenue New York, Champs Elysees Paris hingga toko baju masyarakat kebanyakan di Pasar Tanah Abang.


Keterangan foto: Manekin baju muslim di Tanah Abang, Jakarta. (Grandyos Zegna/detikcom)

(Ari/ash)