Menghindari 99% Kegagalan Streetphotography

Tips Fotografi

Menghindari 99% Kegagalan Streetphotography

Ari Saputra - detikInet
Senin, 22 Jun 2015 16:51 WIB
Erik Prasetya (ari/detikINET)
Jakarta - Memotret streetphotography itu kerja keras. Harus mengenali kota yang dijepret dan rawan dengan kegagalan. Kalau tidak cermat, bakal tergelincir pada foto bergaya traveling semata.

"Alex Webb bilang, foto streetphotography itu foto yang 99% gagal. 1%-nya masih kita cari, kita kejar. Kalau dapet ya itu bahagianya," kata pelopor streetphotography Indonesia Erik Prasetya sambil merujuk pada fotografer legendaris dari agensi foto Magnumphotos Alex Webb.

Berikut saran Erik Prasetya untuk menemukan pesona jalanan yang menarik secara fotografi.

Pertama, jangan terjebak pada urusan teknis memotret seperti aperture, speed atau pilihan moda manual dan otomatis. Pergunakan pilihan-pilihan itu sesuai kebutuhan dan proporsional.

"Kemampuan teknis itu sambil jalan akan jadi. Teknik itu hanya betul-betul proporsional. Kalau kita butuh, kita pakai. Kalau enggak, buang saja, nggak ada gunanya," kata Erik.


Streetphotography karya Erik Prasetya yang sedang dipamerkan di pedestrian Institut Francis Indonesia, Thamrin, Jakarta.

Kedua, lakukan pendekatan yang baik saat hunting streetphotography. Tetaplah menjaga etika dan menghormati subjek yang akan dipotret. Kalau yang akan dijepret keberatan, jangan memaksa.

"Ketika memotret street, pendekatan subjek to objek seperti traveling tidak bisa digunakan. Sebab, saat streetphoto, kedudukan antara fotografer dengan yang dipotret sama. Subjek to subjek. Mereka bisa marah dijadikan objek," tandas pria lulusan ITB jurusan Teknik Pertambangan ini.

Ketiga, kenali kota yang akan dijadikan sasaran. Rasakan suasana dan emosi yang terjadi serta kebiasaan-kebiasaan yang muncul. Teknik ini agak berbeda dengan foto traveling yang lebih menekankan pada unsur keindahan dan destinasi yang menarik.


Streetphotography karya Erik Prasetya.


"Kalau streetphotography yang dicari adalah emosi kota ini apa. Emosi itu ditunjukan salah satunya di jalan, ekpresi-ekpresi mereka, kejadian yang saling berinteraksi,".

Keempat, gunakan intuisi dan perasaan saat memotret streetphotography. Latih kepekaan melihat hal biasa dengan sudut yang berbeda dan menarik. Misalkan adegan makan siang para karyawan di gerobak dorong yang ramai di Taman Lawang. Mungkin, bagi orang biasa itu biasa. Tetapi bagi streetphotographer itu menjadi luar biasa dan bisa dikemas menjadi foto yang menarik.

"Streetphotography itu, dalam bahasa seniman, dia mau bilang, 'I want to tell you something you don't know'. Mengetahui sesuatu yang penting, but everybody know. Lalu membungkus peristiwa itu dalam bentuk yang estetik, yang menarik," tandasnya.

Kelima, jangan berhenti untuk belajar, menambah referensi dan diskusi fotografi. Sebab, semakin kaya wacana dan sudut pandang akan tercermin dalam karya foto yang dihasilkan.

"Masuklah dalam wacana pemikiran. Karena fotomu adalah cerminan dari apa yang kamu pikirkan," pungkas Erik.


Streetphotography karya Erik Prasetya yang sedang dipamerkan di pedestrian Institut Francis Indonesia, Thamrin, Jakarta.

(Ari/ash)