Foto-foto bergenre street fashion belum begitu populer dibandingkan street photography atau human interest. Namun di negara-negara empat musim, dengan baju yang bergonta-ganti tiap tahunnya, memotret fashion yang digunakan model ataupun warga kota sangat menyenangkan. Seakan-akan kejutan selalu hadir di hampir tiap pengkolan jalan.
"Fashion adalah cermin dari gairah dan fantasi. Saya merekamnya dengan sepenuh hati," kata legenda fotografer fashion Bill Cunningham kepada New York Times yang diunggah ke YouTube beberapa waktu lalu.
Untuk memulai foto-foto street fashion, Anda bisa mendandani model atau hunting para fashionista yang seliweran di ruas jalan. Dan bagi yang suka traveling, kesempatan mengunjungi kota mode seperti London, Paris atau New York merupakan momen menyenangkan terutama untuk mengeksplorasi street fashion sebanyak mungkin. Bukan tidak mungkin, 5th Avenue dan Champ de Ellysee bisa berubah menjadi catwalk yang sangat glamour kalau mau jeli dan teliti.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pilihan pose ataukah candid bukan persoalan utama. Jauh lebih penting yakni bagaimana foto-foto yang dihasilkan nantinya mampu menonjolkan baju maupun aksesoris yang dikenakan. Hanya saja, terkadang gaya candid membuat foto lebih dinamis, alamiah dan nyata alias bukan setingan.
Bagaimana dengan pilihan lensa? Lensa zoom premium seperti 24-70mm menjadi tawaran menarik. Pemotret tidak perlu gonta-ganti lensa saat model atau fashionista bergerak cepat dan muncul serta-merta.

Gaya NewYorker melintas di 5th Avenue pada awal musim gugur, Oktober 2014. (Foto: Ari Saputra)
Selain itu, lensa fix 50mm bisa menjadi andalan. Tidak lain karena kemampuannya memotret dari jarak 4 hingga 5 meter yang membuat subjek tidak terasa terganggu. Kalaupun ada kesempatan lebih leluasa, fotografer dapat mengganti ke lensa lebar seperti 35mm atau 28mm.
Apapun pilihan lensanya, sebisa mungkin mampu mengekpos fashion secara utuh seperti motif, detil dan tekstur baju. Termasuk asesoris yang dikenakan seperti jam tangan, pewarna kuku hingga yang terkecil seperti cincin atau giwang -- bila ada. Bagi foto-foto fashion, akurasi gambar tersebut sangat berguna untuk referensi atau penilaian dalam dunia adi busana.

Gaya musim semi KPop di Seoul , April 2015. (Foto: Ari Saputra)
Untuk membuat freez foto, mode kamera dapat disetel TimePriority atau Speed Priority. Yakni dikunci pada speed 1/250, 1/500 atau lebih. Dalam beberapa momen, menggunakan continues shoot tak ada ruginya. Targetnya mampu merekam fashionista dengan freezing dan mampu menampilkan warna atau detil yang akurat.
Oh iya, ada baiknya mengabaikan Mode Manual dalam street fashion. Sebab perbedaan exposure di jalanan dengan momen yang begitu cepat melintas membuat mode Manual kurang efektif.
Setelah selesai memotret, proses editing di komputer tidak terlalu rumit. Yakni sekadar croping menjadi portrait (memanjang ke bawah) seperti pada umumnya foto-foto fashion. Selebihnya tinggal menyesuaikan kontras atau burning/dodging. Olah digital yang berlebihan jarang dilakukan untuk menjaga akurasi data fashion kecuali untuk kebutuhan tertentu.
Jika sudah mendapatkan chemistry dan passion, bukan tidak mungkin hunting street fashion menjadi ketagihan. Seperti yang dialami Bill Cunningham, yang memotret sejak muda hingga usianya saat ini yang menginjak kepala 7 tetapi masih rajin berburu street fashion. Dari baju warga biasa, fashionista ataupun gala dinner hingga gelaran prestisius New York Fashion Week.
(Ari/ash)