Sunset (matahari tenggelam) identik dengan pantai. Yakni saat langit merah merona berpadu dengan gumpalan awan kapas. Garis horizonnya akan sangat elegan ketika bertemu dengan kapal nelayan atau siluet wisatawan di bibir pantai. Dan lensa kamera pun beramai-ramai mengabadikan momen sejenak itu.
Tetapi bagaimana kalau tidak bisa menyambangi bibir pantai? Bisa karena waktu yang mepet atau sedang berada di kota yang tak memiliki pantai yang fotojenik atau ikonik.
Mau tak mau, plan B harus diambil. Yakni option lain supaya momen golden time matahari tenggelam tidak lepas begitu saja. Berikut beberapa alternatif pilihan mengeksplorasi sunset selain di pantai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Merekam bentang kota atau alam saat sunset dengan karakter cahaya samping membuat bentang kota lebih kuat dari biasanya. Tekstur bangunan menjadi lebih menonjol dan akurat. Detailnya begitu sempurna bahkan pada titik terjauh sekalipun. Eksplorasi gradasi warna dengan baik saat langit mulai berubah dari kuning, jingga atau ungu violet sampai biru tua, sekitar 30 menit usai matahari tenggelam.
Pergilah ke titik kota yang cukup tinggi untuk merekam bentang kota atau landscape yang paling seru. Memotret dari sudut pemotretan 10 hingga 45 derajat menjadi pilihan yang tidak pernah membosankan. Gunakan diafragma kecil (dari f/8 hingga terkecil bila memungkinkan) untuk mendapatkan detil apik di ujung horizon. Jepretlah dengan perasaan sampai menghasilkan komposisi gambar yang paling pas.
Keterangan foto: Pantulan cahaya senja di Danau Sunter, Jakarta. (Foto: Ari Saputra)
Bila perlu, siapkan tripod dan filter lensa untuk memaksimalkan hasil. Menggunakan file RAW untuk satu dua jepret tidak ada salahnya, tak lain untuk mempermudah editing di komputer.
2. Streetphotography
Momen pergantian hari juga bagus buat streetphotography. Yakni saat proses matahari tenggelam membuat bayangan panjang pada aktivitas warga kota. Bayangan-bayangan ini membuat ilusi optik dan imajinasi yang tak ada habisnya.
Keterangan foto: Warga Seoul di persimpangan Dongdaemun. (Foto: Ari Saputra)
Ekspresi dan gesture warga kota juga lebih complicated untuk direkam sehingga membuat foto lebih berwarna dan hidup. Dari baju-baju yang sudah tidak serapih di pagi hari, wajah-wajah lelah usai bekerja seharian dan masalah personal yang mungkin terpancar dari tatapan mata mereka. Atau, sikap tergesa-gesa untuk bertemu seseorang usai jam kerja yang membuat foto menjadi lebih dinamis dari biasanya.
Keterangan foto: Kereta subway yang padat saat pulang kerja. (Foto: Ari Saputra)
3. Bermain Siluet
Siluet bukan masalah warna hitam/gelap saja. Melainkan background yang berwarna dengan exposure yang menarik. Drama pun menjadi hidup, mirip panggung teater yang penuh cerita.
Untuk mendapatkan momen ini, bisa dibilang susah-susah gampang. Yakni bagaimana menemukan spot dan subjek yang unik untuk dibuat siluet. Kemudian harus berpacu dengan waktu emas yang sangat terbatas.
Praktiknya, tidak semua subjek foto menarik dibuat siluet, namun hanya yang mempunyai detil dan lekuk yang atraktif. Kalau sekadar sebuah balok kayu kemudian dibuat siluet, tentu akan menjadi datar dan sulit menemukan cerita menarik jika tidak ada unsur lain yang menegaskan narasi.
Keterangan foto: Siluet wisatawan di kawasan Namsam Tower, Seoul. (Foto: Ari Saputra)
Namun dengan latihan dan sering memotret, tantangan ini bisa teratasi. Bahkan bisa memprediksikan spot-spot mana yang menarik untuk dibuat siluet atau tidak.
4. Human Interest
Memotret gaya portrait dengan menekankan unsur kedalaman manusianya, dapat lebih maksimal pada pergantian waktu ini. Yakni saat subjek personal duduk santai menikmati kehangatan matahari tenggelam, menuntaskan hari dengan caranya sendiri-sendiri. Bisa jadi, foto portrait di sore hari mampu merangkum kisah mereka pada hari itu atau satu pekan ke belakang.
Sapalah mereka dengan intim dan akrab disertai bumbu humor yang asik. Jadikan 'target' human interes itu bukan sekedar objek atau model foto yang bersifat seremonial semata. Namun -- dalam waktu singkat -- masuklah dalam dunia mereka. Menjadi bagian dari apa yang mereka pikirkan dan rasakan.
Keterangan foto: Pria bertongkat di desa wisata Gamcheon, Busan. (Foto: Ari Saputra)
Sehingga saat menjepret, fotografer seperti bukan memencet alat atau mesin semata. Melainkan sedang mendefinisakan siapa mereka sembari merasakan 'energi' yang terjadi saat itu. Energi yang bakal ditransfer dalam foto sehingga 'bernyawa'.
Tak ayal, foto-foto human interest begitu menarik. Seperti cerita yang saling bersahut-sahutan, dinamis dan selalu memicu kejutan. (Ari/ash)