Sabtu, 30 Mar 2019 17:37 WIB

Kisah Kodak vs Fujifilm di Masa Lalu

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: PetaPixel Foto: PetaPixel
Jakarta -
Dalam acara live pitching Thinkubator, Jumat (29/3/2019) malam WIB, CEO Tokopedia William Tanuwijaya menyinggung pengalaman Kodak dan Fujifilm. Ia menyebut Fujifilm bisa terus berjalan karena berevolusi. Benarkah?

Kisah kedua perusahaan ini berawal sejak tahun 1980-an. Fujifilm memperkenalkan kamera 35mm disposable pada 1986, dan diikuti oleh Kodak pada 1988. Bagi kedua perusahaan ini, film 35mm saat itu adalah segalanya.

Bisnis utama keduanya memang adalah film dan penjualan peralatan post-processing. Pada 2000 -- sebelum era kamera digital -- penjualan barang terkait film merupakan penyumbang 72% pemasukan Kodak, dan 60% bagi Fujifilm.
Pada era itu Kodak dan Fujifilm adalah penguasa penjualan film dan peralatan pemrosesannya. Memang, ada juga perusahaan lain seperti Agfa dan Konica, namun pangsa pasar keduanya jauh di bawah Kodak dan Fujifilm.
Namun, nasib keduanya berubah ketika era kamera digital datang, tepatnya ketika penggunaan internet dan PC meningkat dan konsumen mulai membeli kamera digital. Transisi dari film ke digital ini sangat menyulitkan produsen film kamera.

Pasalnya, siapa saja bisa memproduksi kamera digital dan itu berbeda dengan film yang sulit untuk diproduksi karena melibatkan proses yang sangat kompleks. Kodak dan Fujifilm harus rela kehilangan posisinya sebagai pemegang pasar dan bersaing dengan belasan perusahaan lain dengan margin rendah di bisnis kamera digital.

Ya, kedua perusahaan itu akhirnya memang berevolusi mengikuti pasar dengan memproduksi kamera digital. Bahkan, Kodak mempunyai pangsa pasar kamera digital sebesar 21,3% di Amerika Serikat pada 2005, jadi ini bukan soal evolusi.

Memang, penjualan kamera Kodak juga tak bagus secara global. Awalnya Kodak mempunyai pangsa pasar 27% secara global pada 1999. Namun angka itu terus menurun, 15% pada 2003, dan 7% pada 2010 karena terus digerus oleh Canon, Nikon, dan beberapa produsen lainnya.

Persoalan utamanya adalah penjualan kamera digital Kodak itu tak menghasilkan uang, malah merugikan mereka. Untuk setiap kamera digital yang mereka jual pada 2001, Kodak merugi USD 60, dan pada akhirnya mereka bangkrut pada 2012.
Fujifilm pun sebenarnya mengalami masalah yang sama, namun mereka bisa selamat dari dalam masa transisi film ke digital itu. Apa langkah yang diambil Fujifilm namun tak diambil Kodak? Diversifikasi.

Pada 2010, saat pasar film merosot menjadi kurang dari 10%, Fujifilm bisa mengembangkan pemasukannya sebesar 57% jika dibanding pada 2000. Sementara Kodak pemasukannya malah menurun 48% dalam rentang waktu yang sama.

Fujifilm merestrukturisasi bisnis filmnya dengan menyunat lini produksi dan menutup fasilitas yang tak diperlukan. Di saat yang sama mereka juga melakukan penelitian untuk bisa mengadaptasi teknologi yang dimiliki Fujifilm ke area lain.

Hal ini dilakukan karena bisnis kamera digital tak seperti bisnis film kamera, karena margin keuntungannya yang rendah. Alhasil Fujifilm pun merambah bisnis farmasi, kosmetik, dan bahkan merambah produksi panel LCD lewat FUJITAC, sebuah komponen penting dalam produksi panel LCD yang ada saat ini.




Kodak Gagal Karena Tidak Berevolusi?

Menyebut Kodak gagal di bisnis ini karena tidak berevolusi memang tidak salah. Narasi yang berkembang selama ini adalah Kodak adalah perusahaan yang terjebak di era film dan tak bisa mengikuti perkembangan pasar kamera digital.

Namun, yang juga perlu diketahui adalah, Kodak sebenarnya mempunyai lini kamera digital yang cukup besar. Bahkan, Kodak juga bisa dibilang sebagai inventor kamera digital saat mereka mengembangkan teknologi tersebut pada 1975.

Kodak menggelontorkan miliaran dolar untuk riset dan pengembangna kamera digital. Namun itu juga yang menjadi kesalahan Kodak, yaitu menggantungkan nasibnya di bisnis fotografi. Berbeda dengan Fujifilm yang bisa melihat kalau bisnis fotografi akan mengalami perubahan besar yang tak menguntungkan bagi mereka.

Kodak sempat memasang 10 ribu kios percetakan foto digital pada tahun 90an, yaitu untuk mereplikasi bisnis filmnya di era digital. Namun era kamera digital mengubah model bisnis fotografi karena konsumen tak lagi mencetak foto mereka, karena mereka lebih senang membagikannya lewat internet, yaitu setelah munculnya jejaring media sosial seperti Friendster dan kemudian Facebook.
(asj/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed