Hal ini dikemukakan oleh Takashi Miyako, Research & Development Manager Fujifilm Indonesia pada detikINET di Bali dalam perjalanan menuju X-T2 Expedition ke Pulau Komodo, Rabu (24/8/2016). "Peluncurannya akan dilakukan pada sekitar tanggal 20-an ke atas," ujar Miyako.
Ekspedisi ini diikuti oleh berbagai kalangan, termasuk awak media, fotografer dan duta kamera Fuji, atau yang disebut sebagai X-Photographer, dan dilakukan Fuji untuk menguji kemampuan kamera anyar itu di sejumlah pulau, termasuk Pulau Komodo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga yang lebih mahal ini seharusnya wajar, mengingat meski kedua kamera ini punya tampang yang sama, menurut Takashi keduanya punya jeroan yang sangat berbeda, terutama dari segi sensor dan prosesor gambar.
Dari segi jeroan, X-T2 menggunakan sensor serupa dengan X-Pro 2, yaitu X-Trans CMOS III APS-C dengan resolusi 24,3 megapixel. Sensor ini ditemani dengan prosesor X anyar yang diklaim bisa menghasilkan autofokus yang lebih gegas dan tepat dengan 325 titik autofokus, karena menggunakan algoritma yang lebih pintar.
Lalu ada juga perbaikan-perbaikan kecil yang dilakukan perusahaan asal Jepang itu. Seperti tombol putar yang lebih tebal, agar lebih mudah diputar.
"Ini kami lakukan untuk meningkatkan kenyamanan pengguna. Lalu ada juga tombol baru, untuk mengatur titik fokus. Ini fitur yang sama seperti di X-Pro 2," tambah Miyako.
X-T2 pun kini bisa merekam video 4K dengan frame rate 24, 25 maupun 30 fps. Sementara video 1080p-nya bisa merekam dengan frame rate maksimal 60 fps. Sayangnya Fuji membatasi durasi video pada resolusi 4K, hanya 10 menit, dan 15 menit pada resolusi 1080p.
Bodi kamera ini juga masih weather resistant, dengan EVF berpanel OLED dan layar 3 inch yang bisa diputar. ISO maksimalnya pun ditingkatkan menjadi 21.600 dari 6.400 pada X-T1.
Sayangnya pihak Fuji hingga saat ini belum bisa mengungkap banderol dari X-T2, meski bisa memastikan kalau harganya akan lebih mahal ketimbang X-T1, yang diluncurkan pada awal tahun 2014 tersebut. "Mungkin harganya akan di atas Rp 20 juta," singkatnya.
Harga yang lebih mahal ini seharusnya wajar, mengingat meski kedua kamera ini punya tampang yang sama, menurut Takashi keduanya punya jeroan yang sangat berbeda, terutama dari segi sensor dan prosesor gambar. (asj/rou)