Fotografer Pelit vs Hemat

Fotografer Pelit vs Hemat

ADVERTISEMENT

Fotografer Pelit vs Hemat

Penulis: Enche Tjin - detikInet
Senin, 21 Des 2015 16:24 WIB
(ilustrasi/gettyimages)
Jakarta -

Pelit dan hemat sekilas sulit dibedakan, tapi jika diteliti, maka perbedaannya sangat kontras. Orang pelit biasanya hanya peduli dengan harga saja, tidak peduli kualitas atau nilai yang bisa diberikan sebuah produk atau jasa.

Orang pelit selalu mencari harga yang termurah. Selain itu, orang pelit juga sering mengkritik orang lain, atau perusahaan yang menjual produk dengan harga yang menurutnya tinggi. Padahal harga seringkali menjadi indikator kualitas yang bagus.

Dalam hidup ini, rugi jika kita hidup sebagai orang yang pelit. Saya dulunya juga orang yang pelit, tapi setelah belajar dari pengalaman, saya mencoba berubah jadi orang yang hemat.

Jika kita pelit dan membeli yang termurah, kemungkinan besar apa yang kita beli kualitasnya rendah. Contohnya tripod. Banyak yang menanyakan ke saya apakah saya merekomendasikan tripod dengan harga dibawah satu juta. Saya selalu jawab tidak, karena sebagian besar tripod dibawah satu juta kualitasnya kurang baik. Entah kurang stabil, terlalu berat, tidak fleksibel.

Tripod seperti itu bahaya jika digunakan di lapangan, terhembus angin kencang atau ombak bisa jatuh dan mengakibatkan kamera dan lensa rusak. Akhirnya niat semula yang maksudnya ingin hemat malah harus bayar jauh lebih besar.

Demikian juga membeli kamera, lensa dan flash. Membeli yang terlalu murah, ternyata fiturnya sangat sederhana, lambat, cepat rusak, tidak nyaman digunakan, dan kualitas gambar tidak memuaskan. Ujung-ujungnya saya harus beli lagi yang lebih bagus. Orang pelit biasanya harus membayar dua kali dan kehilangan waktu yang tidak bisa kembali lagi.

Berbeda dengan persepsi masyarakat umum, orang hemat bukannya pintar menyimpan uang ke dalam celengan, melainkan suka mengunakan uangnya dengan pintar. Orang hemat tidak segan-segan mengeluarkan uang untuk membeli barang yang harganya tinggi asal sesuai kebutuhan dan standar kualitasnya bagus.

Akibatnya, barang yang dibeli bisa tahan lama dan digunakan untuk jangka panjang. Kembali ke masalah tripod, tripod yang berkualitas dapat digunakan dalam waktu lebih lama sebelum rusak, dan membantu menghasilkan foto yang lebih tajam.

Bedanya orang hemat dengan yang boros adalah orang hemat tidak suka membayar untuk hal-hal yang tidak penting dan tidak dibutuhkan. Misalnya memesan makanan dan minuman berlebihan saat makan di restoran. Orang hemat juga tidak mudah terpengaruh dengan tren dan lingkungan.

Meskipun teman-teman di sekitar saya sudah banyak yang memakai smartphone dan laptop canggih diatas Rp 10 juta, dan bahkan orang-orang terdekat seperti Iesan dan mas Erwin juga sering mendorong saya untuk membeli, tapi karena saya masih memiliki prioritas lain, saya belum berencana membeli gadget anyar yang tidak begitu penting bagi saya saat ini.

Masalah yang sering saya perhatikan adalah sebagian besar orang bingung menetapkan skala prioritas terhadap apa yang penting dan wajib dibeli, dan mana yang hanya merupakan keinginan sesaat. Maka itu, yang penting adalah mengembangkan wawasan yang lebih luas dan berpikir untuk jangka panjang.

*) Penulis: Enche Tjin adalah pendiri Infofotografi.com, seorang fotografer, instruktur fotografi, penulis buku dan tour photography organizer.

Mau konsultasi berbagai hal seputar fotografi? Kirim saja pertanyaan ke Klinik IT detikINET di link berikut.

(jsn/ash)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT