Untuk membuat foto terlihat dinamis, banyak trik dilakukan. Biasanya dengan permainan foreground-background atau mengeksplorasi cahaya/bayangan. Tetapi jika sudah mentok, maka ada trik lain yang bisa digali: menjepret 2, 3, atau 4 adegan sekaligus dalam satu frame.
Foto dengan berbagai adegan dalam satu frame dapat diperoleh karena kebetulan atau memang sengaja mencari momen yang tepat. Tujuannya untuk membuat ruang cerita lebih mendalam. Apalagi kalau antar adegan itu saling mendukung point of interest (PoI), maka foto yang dihasilkan dapat saling bersahut-sahutan dan penuh irama yang enak untuk dinikmati.
Terdengar rumit? Pada awalnya mungkin iya. Namun bila sudah terbiasa, membuat foto dengan berbagai adegan dalam satu frame bisa dihasilkan dengan mudah. Berikut tips dan trik yang bisa dilakukan untuk membuat foto-foto dinamis seperti itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Misalkan 'adegan pertama' itu berupa papan iklan atau manekin toko. Kemudian tunggulah momen 'adegan kedua' seperti pejalan kaki melintas atau pekerja membersihkan papan iklan tersebut. Anda bisa menambahkan sendiri contoh seperti ini dengan bebas dan imajinatif.
Kedua, temukan spot dengan aktivitas beragam namun relatif homogen seperti di halte bus atau subway. Di tempat tersebut sering dijumpai berbagai macam cara membunuh waktu saat menunggu tranposrtasi publik. Ada yang mendengar musik lewat earphone, bermain game/gadget, menelpon atau saling berbicara antar teman.
Berbagai adegan itu bisa dibingkai dalam satu frame yang saling membangun cerita soal 'menunggu'. Bisa fokus kepada ekpresi (medium close up) ataukah bermain gesture/bahasa tubuh soal penantian bus atau kereta bawah tanah.
Ketiga, cobalah memahami kebiasaan kerumunan yang menawarkan adegan beragam dalam satu momen bersamaan. Kemudian buat pola interaksi dalam kerumunan tersebut sebagai patokan untuk mendapatkan timing yang tepat memencet shutter.
Contohnya bisa ditemukan di resepsi perkawinan (wedding photography), di jalanan (streetphotography) atau saat karnaval dan keramaian di pasar (people/culture photography). Meskipun terlihat sangat berantakan, sejatinya keramaian tersebut bisa disederhanakan dalam pola dan adegan tertentu.
Seperti di Pasar Ubud dalam artikel ini, adegan transaksi, negosiasi dan mengemas barang merupakan pola berulang. Dari membuka lapak sampai tutup pasar, adegan melayani pembeli atau menata barang jualan selalu berulang dalam ritme yang hampir mirip. Tinggal mencari komposisi yang tepat maka siapa saja mampu merekam adegan pasar dengan dinamis dan enerjik. Bisa bergaya candid, portrait atau reportase.
Kalau masih kurang puas, tambahkan sedikit unsur artistik, permainan warna, bereksperimen dengan grafis atau apapun yang membuat foto lebih hidup. Selebihnya, biarkan naluri fotografi menuntun telunjuk Anda memencet shutter dengan caranya sendiri -- baik spontan atau terstruktur.
Antri kereta bawah tanah di Osaka, Jepang. (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Β Pengunjung Museum of Modern Art (MoMA) New York. (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Pasar Ubud dengan kesibukannya. (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Papan iklan yang atraktif terlihat kontras dengan pejalan kaki yang melintas tidak peduli di jalanan San Francisco. (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Apapun dilakukan penumpang untuk membuang kejenuhan di bus kota di San Francisco. (Foto: Ari Saputra/detikcom)
(Ari/fyk)