Kejayaan di era analog seakan ingin dibangkitkan lagi di era digital ini. Tengok saja lini X-series mereka yang banyak menuai pujian berkat kualitas yang diusung.
Nah, mendekati akhir tahun, perusahaan yang didirikan pada tahun 1934 ini lagi-lagi menggoda konsumen dengan melahirkan kamera anyar di X-seriesnya. Bukan hanya satu melainkan dua sekaligus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
X-E2
X-E2 merupakan suksesor dari X-E1. Layaknya suksesor, tentu ada peningkatan kemampuan di sana sini. Untuk seri mirrorless tersebut, salah satu peningkatan yang nyata adalah fitur WiFi untuk kemudahan transfer dan penghilangan optical low pass filter.
Optical low pass filter sendiri hadir untuk menekan efek moire pada foto. Namun tanpa filter tersebut, hasil foto akan terlihat lebih tajam.
Terdapat juga Lens Modulation Optimizer di kamera yang memiliki kemampuan bergonta-ganti lensa ini. XQ1 adalah kamera kompak pertama yang menggunakan Lens Modulation Optimizer, jelas Ade Yogaswara, selaku Product Specialist PT Fujifilm Indonesia, Selasa (19/11/2013).
Salah satu manfaat yang bisa diambil di sini adalah pengurangan distorsi saat memotret landscape dengan bukaan kecil. X-E2 juga mengusung viewfinder OLED super jernih dengan resolusi 2,36 juta titik, sedangkan LCD 3 incinya dipadati oleh 1,04 juta titik.
Total ada 60 peningkatan di sini dibandingkan seri X-E1. Tata letak tombol di bodi belakang, logo yang kini ditaruh di depan bodi, face detection, manual focus bergaya digital split image adalah beberapa di antaranya.
Kamera yang memakai sensor X-Trans CMOS II ukuran APS-C 16,3 juta piksel ini dilepas di harga sekitar Rp 16 juta. Johanes J Rampi, Sales & Marketing Manager PT Fujifilm Indonesia mengatakan bahwa kamera yang diklaim memiliki sistem AF terkencang yakni 0,08 detik itu akan tersedia di pekan pertama Desember 2013.
XQ1
Adapun di kelas kamera kompak premium ada XQ1. "Ukuran sensor XQ1 adalah 2/3β yang jauh lebih besar dari sensor kompak biasa yang berukuran 1/2.3β atau 1/7β ," ujar Ade di Mandarin Oriental Hotel, Jakarta Pusat.
Ini juga merupakan kamera perdana Fujifilm yang memakai Lens Modulation Optimizer. Deteksi AF-nya sama dengan X-E2, pun juga di sini sudah dibenamkan WiFi.
Karena kelasnya berbeda, tentunya ada pengorbanan di kamera mungil ini. LCD 3 incinya mengusung 920.000 titik, tidak sejernih X-E2.
Namun asyiknya, pengguna sekarang bisa lebih leluasa melakukan proses charging, termasuk charging via power bank, karena piranti ini sudah mendukung standard micro usb-cable.
Untuk seri compact ini, Fujifilm membanderolnya di harga Rp 4,4 juta. Adapun kamera compact sendiri menyumbang lebih dari separuh total penjualan kamera perusahaan. "Kontribusi kamera compact adalah 60% dari total sales Fujifilm hingga Oktober kemarin," papar Johanes.
Β
(sha/fyk)