Kekesalan masih membayangi fotografer asal Korea Selatan bernama Ahn Sehong berikut. Wajar, sebab pameran fotonya yang sedianya akan digelar di Nikon Salon, Tokyo, tiba-tiba saja dibatalkan.
Padahal, bidikan-bidikan karya Sehong ini sudah dicetak dan dipigura, tinggal dipajang saja. Bukan, bukan masalah kualitas yang menyebabkan pembatalan dilakukan oleh perusahaan kamera asal Jepang tersebut, melainkan karena kontennya.
Foto yang ditampilkan Sehong menampilkan potret seorang wanita Korea yang dulu dikenal sebagai 'comfort woman'. Sekedar informasi, julukan tersebut ditujukan pada wanita dari Korea yang dijadikan pemuas nafsu tentara-tentara Jepang ketika World War II (WWII) berlangsung. Beberapa ekstrimis Jepang menampik keberadaan comfort woman tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Awalnya saya merasa marah dan frustasi," tutur Sehong yang belakangan menyadari bahwa Nikon mencabut pamerannya terkait protes politik di Jepang. "Semua sudah disiapkan untuk pembukaan pameran 26 Juni nanti," sesalnya.
Laporan dari AmateurPhotographer menyebutkan bahwa Nikon menelan akibatnya terkait pembatalan tersebut. Mereka dibanjiri keluhan dan protes yang tentunya juga datang dari kalangan fotografer.
Penggiat foto Magnum, Chris Steele-Perkins dan Chris Furlong dari Getty meminta Nikon untuk membatalkan penyensorannya. Senada dengan mereka, fotografer Brian Harris mengatakan," Nikon sebaiknya melakukan hal yang pantas dan memamerkan karya Ahn Sehong. Mereka harus menyadari bahwa ini adalah kontribusi penting dalam pemahaman Jepang mengenai sejarah".
Nama-nama lain turut tercatat memberikan sokongan pada Sehong. Bahkan Simon Barber dari Inggris telah menyusun surat terbuka pada Nikon yang berisi sekitar 250 tanda tangan fotografer baik profesional maupun amatir dari seluruh penjuru.
Foto yang menjadi kontroversi itu memang sarat emosi. Di salah satu portraitnya, terlihat wanita renta yang menjadi objek foto sedang menangis. Menambah kesan dramatis adalah warna hitam putih yang dipilih Sehong untuk karyanya. Sehong sendiri membutuhkan waktu 15 tahun untuk mengerjakan proyeknya tersebut.
(sha/fyk)