YotaPhone, Ponsel 'Dua Wajah' yang Tamat Riwayatnya

FotoINET

YotaPhone, Ponsel 'Dua Wajah' yang Tamat Riwayatnya

Istimewa - detikInet
Selasa, 23 Apr 2019 09:26 WIB

Jakarta - YotaPhone adalah smartphone unik di masanya bahkan mungkin sampai kini. Sayang, vendor di belakangnya menyatakan bangkrut.

Diihat dari depan, YotaPhone sama seperti ponsel kebanyakan. Ini adalah YotaPhone 2. Foto: detikINET - Anggoro Suryo Jati

Yang membedakan adalah bagian belakang pun dipenuhi layar walau bukan full warna melainkan dari e ink. Foto: detikINET - Anggoro Suryo Jati

Layar bagian belakang itu menampilkan beragam informasi berguna. Foto: detikINET - Anggoro Suryo Jati

Yota sendiri memulai debutnya di tahun 2013 dengan merilis smartphone pertamanya yang diberi nama Yotaphone. Foto: detikINET - Anggoro Suryo Jati

Usaha Yota kala itu sukses membuat dunia melirik produknya. Yotaphone pun menjadi ponsel terunik di dunia. Foto: detikINET - Anggoro Suryo Jati

Tak puas sampai di situ, di tahun berikutnya Yota kembali merilis produk penerus yang diberi nama Yotaphone 2. Foto: detikINET - Anggoro Suryo Jati

YotaPhone 2 bahkan sempat masuk ke pasar Indonesia. Foto: detikINET - Anggoro Suryo Jati

Seri terakhir adalah YotaPhone 3 yang keluar pada tahun 2017. Foto: detikINET - Anggoro Suryo Jati

Sayang, Yota tiba-tiba mendeklarasikan bangkrut dan semua asetnya akan dilikuidasi. Penyebab kebangkrutan lantaran Yota menghadapi gugatan dari pemasok komponen. Laporan dari iGuides, produser layar e-ink Hi-P Electronics menuntut Yota lantaran gagal memenuhi jumlah minimum pesanan komponen. Foto: detikINET - Anggoro Suryo Jati

Nilai tuntutan cukup besar, yakni USD 126 juta. Yota kemudian membayar USD 17 juta sebagai kompensasi dan pihak Hi-p setuju menerimanya.  Akan tetapi perusahaan asal Singapura itu mengajukan klaim lain sebesar USD 1 juta. Namun Yota menyatakan tidak sanggup membayarnya, karenanya mereka mengajukan kepailitan. Foto: detikINET - Anggoro Suryo Jati

Bagaimanapun, Yota cukup sukses memberi warna baru di jagat smartphone. Foto: detikINET/Irna Prihandini

Dan bukan tidak mungkin suatu saat mereka bangkit lagi. Foto: Istimewa

(/)