Belajar dari Jan Koum, Si Pencipta WhatsApp

FotoINET

Belajar dari Jan Koum, Si Pencipta WhatsApp

Pool - detikInet
Selasa, 01 Mei 2018 19:30 WIB

Jakarta - Kisah tentang Jan Koum, pencipta WhatsApp yang menjual aplikasinya ke Facebook seharga USD 19 miliar, mungkin bisa dijadikan pelajaran untuk memulai kesuksesan.

Latar belakang bukanlah alasan untuk kegagalan dalam hidup. Koum pernah hidup miskin. Dia melakukan pekerjaan kasar seperti membersihkan dan mengepel toko kelontong sementara ibunya mengambil pekerjaan menjaga anak. Foto: Getty Images

Telaten belajar secara otodidak. Koum semasa sekolah dikenal sebagai anak nakal dan sering terlibat perkelahian. Meski bandel, Koum adalah bocah yang pintar. Pada usia 18 tahun, dia berinisatif untuk belajar networking komputer secara otodidak. Dia juga bergabung dengan klub hacker berjuluk w00w00. Foto: Getty Images

Detail dan teliti. Contoh ketelitian Koum terlihat saat dirinya menghabiskan waktu berhari-hari membuat kode backend untuk menyelaraskan WhatsApp dengan nomor telepon apa pun di dunia, dengan mempelajari entri Wikipedia yang mencantumkan daftar panggilan internasional. Foto: Getty Images

Catat hal penting. Di masa awal pengembangan WhatsApp, seringkali aplikasi tersebut tiba-tiba mati atau hang. Sambil mengatasi masalah itu, Koum mencatat hal penting di notebook era Soviet yang dia bawa selama bertahun-tahun. Notebook tersebut berisi proyek-proyek penting hasil pemikirannya. Foto: Rachman Haryanto/detikcom

Menjadi pembelajar seumur hidup. Koum memiliki semangat belajar yang tinggi. Saat remaja, dia tertarik dengan teknologi informasi dan tidak lelah belajar serta  mempraktikkan apa yang dia pelajari tentang pemrograman software. Keahliannya membuat Yahoo meliriknya dan mempekerjakannya sebagai engineer IT di usia muda. Foto: detikINET/Irna Prihandini

Jangan berlarut-larut dalam kekecewaan. Koum pernah ditolak bekerja di Facebook. Namun hal itu tidak membuatnya berkecil hati. Di kemudian hari, justru Facebook yang meliriknya dan mengakuisisi WhatsApp. Ilustrasi WhatsApp: Kiagoos/detikcom

Semangat membuat produk yang hebat dan berguna. Koum selalu ingin membuat produk yang bisa memenuhi kebutuhan, dan hal itu dibuktikannya lewat WhatsApp. Ketika produknya berguna dan memenuhi kebutuhan, uang pun datang. Koum kini menjadi miliuner berkat karyanya. Baginya, uang bukanlah motivasi utama. Koum selalu mengatakan, dia hanya ingin membangun sebuah produk hebat. Foto: Istimewa

Biarkan karya yang berbicara. Menurut Koum, produk yang bagus akan mengiklankan dirinya sendiri. Tahukah kalian, berapa banyak yang dibayar WhatsApp untuk memasarkan layanan mereka? Nol! WhatsApp memiliki kebijakan 'tidak ada iklan'. Dengan kehebatan dan manfaat yang dirasakan banyak orang, WhatsApp populer dengan sendirinya. Foto: Istimewa

(/)