Deretan Gadget yang 'Dibunuh' Microsoft

FotoINET

Deretan Gadget yang 'Dibunuh' Microsoft

Istimewa - detikInet
Selasa, 03 Apr 2018 18:25 WIB

Jakarta - Awal revolusi PC, Microsoft agresif di pasar konsumer dengan berbagai produk dan layanan. Namun belakangan, Microsoft mematikan beberapa dari produk tersebut.

Windows Media Center diluncurkan pada 2002 sebagai edisi khusus Windows XP. Layanan ini menawarkan apa yang disebut 10-foot interface untuk mengoperasikan PC Windows dengan remote control dan menampilkan output di TV layar besar. Tim pengembangan Windows Media Center dibubarkan pada 2009, setelah merilis kode final Media Center untuk Windows 7. Foto: Istimewa

Para pembuat PC seperti HP dan Dell menginvestasikan sumber daya engineering mereka untuk mendukung dan menjual Media Center milik Microsoft untuk hiburan di ruang keluarga. Korban paling terdampak penghentian produk ini adalah pembuat aksesoris bernama Media Center extender termasuk HP, Linksys, Samsung dan Ceton. Saat ini, Xbox One mungkin satu-satunya produk Microsoft yang bisa ditemukan sebagai hiburan di ruang keluarga. Foto: Istimewa

Kesuksesan Xbox ternyata tak sanggup menyelamatkan Kinect. Padahal awalnya, Kinect dianggap sebagai gebrakan. Kamera 3D inovatif ini memungkinkan gamer melakukan berbagai gerakan tubuh dan menjadikan pengalaman bermain game lebih seru. Sayangnya, Kinect sangat mahal dan banyak gamer mengabaikannya. Pada Oktober 207, Microsoft memutuskan untuk tidak lagi memproduksi Kinect dan software development kit untuk Kinect tidak akan diperbarui. Foto: Istimewa

Layu sebelum berkembang, Zune sudah redup sejak kemunculannya. Pemutar musik pertama Microsoft ini dirilis pada November 2006, hampir berbarengan dengan momen ketika iPod Apple sedang tren. Zune mencoba menyejajarkan diri dengan iPod dengan menawarkan desain yang semakin elegan. Softwarenya pun mengalami upgrade signifikan sehingga lebih mudah digunakan. Namun usaha tersebut ternyata sia-sia. Zune gagal bersinar, hingga akhirnya di 2011, Microsoft menghentikan produksi Zune. Foto: Istimewa

Ketimbang aplikasi Groove Music, kebanyakan pecinta musik lebih memilih Spotify dan Apple Music. Groove Music masih ada di Windows 10, namun Microsoft menghapus semua musik dari toko online untuk musiknya dan menutup layanan Groove Music Pass streaming pada akhir 2017. Foto: Istimewa

Microsoft pernah mendominasi platform smartphone dengan platform Windows Mobile-nya. Namun dominasi tersebut segera berakhir setelah iPhone dirilis pada 2007 dan Android memulai debutnya di 2008. Untuk mengejar ketertinggalan, Mei 2010, Microsoft merilis dua smartphone berbentuk imut yang dinamai Kin. Sayangya Kin gagal menarik perhatian dan Microsoft memutuskan untuk tak lagi membuatnya. Foto: Istimewa

Keputusan Microsoft mengakuisisi bisnis smartphone Nokia adalah sebuah kegagalan besar. Di bawah kepemimpinan mantan eksekutif Microsoft Stephen Elop, Nokia menjadi partner OEM Microsoft paling antusias. Nokia menghadirkan perangkat Windows Phone yang tampil menawan. Para penggemar Windows Phone sangat menyukainya. Sayang, produk ini gagal memenangkan hati konsumen. Ponsel Nokia-Microsoft gagal menyaingi iPhone dan perangkat Android. Foto: GettyImages

Windows 10 Mobile adalah sistem operasi yang keren. Salah satu keunggulan dari OS ini adalah docking station yang menggunakan fitur Continuum untuk menghubungkan smartphone dengan layar besar sehingga bisa dijadikan sebagai komputer. Masalahnya, developer aplikasi menghindari Windows 10 Mobile. Tanpa aplikasi, platform ini pun sepi dan tak berfungsi. Di akhir 2017, Microsoft mengakhiri eksperimen Windows Mobile. Foto: Istimewa

Beberapa tahun belakangan, Microsoft rajin 'bersih-bersih' sejumlah proyek produk consumer yang gagal. Microsoft Band termasuk salah satu yang tidak dilanjutkan. Perangkat yang semula ingin menyaingi Fitbit dan wearable gadget sejenis lainnya ini dirilis pada akhir 2015. Versi kedua, dirilis setahun kemudian, berbarengan dengan kemunculan Apple Watch pertama. Namun kemudian, para bos Microsoft merevisi produk ini di 2016 dan mempertanyakan kembali tujuan mereka masuk ke bisnis wearable device. Tidak ada yang tahu jawabannya. Namun yang jelas, Microsoft Band akhirnya tamat sebelum versi ketiganya dirilis. Foto: Istimewa

Hal serupa terjadi pada Microsoft Auto yang kehabisan bensin. Semula, Microsoft antusias ikut terjun di dunia otomotif, ketika banyak perusahaan teknologi berlomba membuat sistem pintar untuk kendaraan. Kemenangan terbesar bagi Windows di dunia otomotif adalah keputusan Ford mengadopsi teknologi untuk platform Sync. Sayang, software ini mendapat nilai buruk dan Ford menggantikannya dengan QNX milik BlackBerry di 2015. Foto: Istimewa

(/)