Wakil APNIC di acara tersebut, Miwa Fujii, mengingatkan bahwa sisa alamat Internet Protocol (IP Address) versi 4 alias IPv4 saat ini di seluruh dunia hanya 39 blok /8 (kelas A). Belum lagi, dari kesepakatan terakhir, dari 39 blok ini pun masih harus 'ditahan' 5 blok di seluruh dunia untuk cadangan saat IPv4 benar-benar habis.
Untuk secara real-time memantau perkembangan berkurangnya IPv4 ini, APNIC mempersilhakan komunitas IPv6 memakai sebuah aplikasi online menarik, yang dibuat oleh DR. Takashi Arano, yang dapat diakses melalui alamat http://entne.jp/tool/test/index_en.html.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk dapat meningkatkan kesadaran pengguna internet di Indonesia, aplikasi ini juga telah tersedia dalam bahasa Indonesia. Kini, tersedia 14 bahasa yang dapat dipilih oleh pengguna aplikasi ini.
Di akhir presentasinya, Miwa Fujii, kembali menekankan perlunya ISP membuat rencana kerja yang jelas dan terukur untuk mempersiapkan implementasi IPv6 di jaringannya masing-masing. ISP dan pemerintah masing-masing negara juga dihimbau agar segera membuat program sosialisasi kepada pengguna internet. Diharapkan, pada saat IPv6 akan diimplementasikan secara luas nanti, dampak-dampak negatif yang mungkin timbul dapat diminimalkan.
Penulis, Edwin Purwandesi, adalah Asisten Manager di bagian Pengelola Produk-produk TELKOMNet, PT TELKOM. Edwin juga merupakan Anggota Asia Pasific IPv6 TaskForce.
Gambar: IPv4 Exhaustion Counter edisi Bahasa Indonesia, penerjemahan oleh Edwin Purwandesi.
(wsh/wsh)