Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Blog Wakil Walikota Surabaya Menuai Protes

Blog Wakil Walikota Surabaya Menuai Protes


- detikInet

Surabaya - Entah kebetulan atau bukan, ada perubahan yang mencolok dalam wajah blog milik Wakil Walikota Surabaya Arif Afandi tak lama setelah Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) disahkan, Rabu (9/4/2008).

Blog orang nomor dua di Kota Pahlawan ini sebelumnya terdapat halaman khusus untuk menampung aspirasi pembaca maupun warga kota. Rubrik yang diberi nama 'Suara Publik', semenjak online pada 25 Maret 2008 seolah menjadi primadona.

Detiksurabaya.com pernah mencoba mengintip rubrik favorit yang ada di blog arifafandi.blogdetik.com memang ramai dikunjungi. Banyak pembaca yang berharap 'Suara Publik' itu mampu menjadi jembatan komunikasi ini antara warga Surabaya dengan pemerintah kota.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Banyak sekali keluhan, kritik maupun saran yang disampaikan melalui rubrik tersebut. Tetapi banyak juga pengunjung yang memanfaatkan rubrik yang bisa diisi sesuka hati itu untuk menghujat atau meledek sejumlah pejabat.

Nampaknya, rubrik itu membuat Arif Afandi gundah. Tujuan utama disediakannya rubrik itu dianggap tak tepat sasaran. Arif pun memilih menutup kran suara publik.

Langkah Arif nampaknya disesalkan para pengunjung. Mereka menyesalkan penutupan rubrik yang dianggap mampu menjadi wadah aspirasi warga tersebut. Salah satu pengunjung yang merasakan kekecewaannya pun mencoba menanyakan alasannya ke Arif Afandi melalui posting komentar.Salah satunya, adalah Sofyan Djalil. Inilah pesannya:

"Semenjak Bapak membuka suara publik, saya berpendapat Bapak Pemimpin Publik berlatar belakang Jurnalis yang berpikiran moderat dan profesional, berani melawan arus dan kekuasaaan sepanjang dasar tujuannya untuk rakyat yang didasari kebenaran dan keadilan.

Ternyata, baru berapa hari forum Ruang Suara publik sudah Bapak tutup, saya belum mengetahui alasan Bapak, namun mudah2an bukan karena takut kehilangan pengaruh jabatan karena suara publik tersebut pasti tidak disukai walikota..... itu !
"


Ada lagi dari Anwar Ibrahim Iskandar. Ini dia isinya:

Mas Arif apa alasannya suara publik ditutup.

Kasihaan Rakyat tidak bisa menyalurkan unek-uneknya kepada pemkot………….

Mas Arif jangan takut, hidup di zaman edan sekarang ini Tokoh sekaliber anda kalau konsisten, maka Allah SWT akan memberkati anda jabatan yang mulia, untuk membongkar kemunafikan kepemimpinan yang sekarang.


Banyaknya protes tentang penutupan Suara Publik tidak membuat Arif diam. Mantan Pemimpin Redaksi Jawa Pos ini mencoba memberikan keterangan seputar petutupan Suara Publik. Inilah penjelasan Arif Afandi yang diposting dalam blognya:

"Mas Sofyan Jalil dan Mas Anwar Ibrahim, saya tidak menutup suara publik. Akses untuk itu masih tetap ada. Misalnya, lewat blog ini, lewat email saya maupun lewat sms. Dalam teori jurnalistik, ada layak berita dan ada layak muat.

Layak berita dasarnya news value, sedangkan layak muat pertimbangannya etik. Nah, beberapa perbincangan terakhir di suara publik itu sangat bagus untuk masukan bagi saya dalam rangka membangun pemerintahan yang baik.

Namun –seperti gaya saya selama ini– saya tidak mau menghujat orang atau personal. Nah, yang sifatnya personal –apalagi cenderung menghujat– tidak sesuai dengan gaya saya. Kalau menghujat saya sendiri malah tidak apa-apa, he…he…"
.

Memang dari pengamatan, Arif Afandi masih rajin memberikan jawaban bagi komentar yang masuk dalam informasi yang dipostingnya.

Yang jelas bukan karena takut dijerat UU ITE karena menyebarluaskan informasi yang bermuatan penghinaan atau pencemaran nama baik seseorang kan Pak Wawali? (gik/wsh)






Hide Ads
LIVE