Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
'Software Manajemen Bencana Tak Perlu Mahal'

'Software Manajemen Bencana Tak Perlu Mahal'


- detikInet

Jakarta - Piranti lunak sistem informasi manajemen bencana sangat dibutuhkan di Indonesia. Apalagi Indonesia berada di wilayah yang boleh dikatakan rawan bencana. Namun, banyak dari sistem yang digunakan masih berbasis proprietary yang notabene biayanya mahal.

Untuk menyiasatinya, Kementerian Negara Riset dan Teknologi (Ristek) mencoba mendorong pemanfaatan Geographic Information System berbasis Free and Open Source (FOSS) untuk manajemen bancana. Piranti lunak ini tentunya lebih hemat biaya karena sifatnya yang bebas lisensi alias gratis.

Sistem ini bernama SAHANA, sebuah piranti lunak yang dkembangkan di Sri Lanka. SAHANA dibuat berdasarkan pengalaman setempat saat menanggulangi kondisi pasca bencana saat tsunami besar 26 Desember 2004.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

SAHANA, yang berasal dari bahasa Sri Lanka yang artinya harapan, diyakini bisa diterapkan dengan baik di Indonesia. Sebagai langkah awal menerapkan SAHANA, Ristek bekerjasama dengan International Open Source Network - United Nations Development Program (IOSN-UNDP).

Project Manager IOSN-UNDP, Francisco E. Sarmiento III MD., berpendapat SAHANA lebih murah 80 hingga 90 persen dibandingkan sistem serupa berbasis proprietary. "Jadi dana yang lain bisa diinvestasikan. Misalnya untuk membayar pelatihan agar lebih layak," di sela-sela training of trainers (TOT) yang dilakukan di Gedung BPPT, Jakarta, Senin (24/3/2008).

Menurut Sarmiento, SAHANA telah diimplementasikan di Amerika Serikat saat serangan Badai Katrina. Selain itu sistem ini juga digunakan oleh Filipina, Bangladesh dan negara asia lainnya.

Staff Ahli bidang TI dan Komunikasi Ristek, Engkos Koswara, mengatakan Indonesia, sedang belajar menggunakan sistem ini. "Ke depannya kami akan mendorong sistem manajemen bencana berbasis Open Source seluruhnya," ujarnya.

TOT ini merupakan yang keduakalinya digelar di Indonesia, setelah yang pertama di 2007. Tahun ini, ujar Engkos, TOT diikuti 20 peserta dari institusi pemerintah, Usaha Kecil dan Menengah, perguruan tinggi serta organisasi non pemerintah. TOT tahap dua ini digelar 24 hingga 28 maret 2008. (wsh/wsh)







Hide Ads