Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Kolom Telematika
Hotspot Gratis Oke, Tetapi Kok Tanpa Strategi Pemasaran
Kolom Telematika

Hotspot Gratis Oke, Tetapi Kok Tanpa Strategi Pemasaran


- detikInet

Jakarta - Ratusan hotspot tak mampu pikat pengguna internet Jatim. Judul tulisan di detikINET Jumat (4/1/2007) lalu sangat menggelitik. Bayangkan, dalam kurun 6 bulan Telkom berhasil memasang hot spot atau jaringan internet nirkabel ini di 38 alun-alun di kota dan kabupaten serta di 300 titik kota Surabaya yang tersebar di mal, sekolah dan tempat-tempat umum. Sebuah usaha yang layak diacungi jempol.

Namun hasil evaluasinya dianggap mengecewakan. Mengapa? Communication Manager Telkom Jawa Timur Djadi Soegiarto mengatakan, dari pertengahan hingga akhir tahun 2007, peningkatan penetrasi internet di Jatim tidak sampai 1 persen.

"Peningkatannya tidak signifikan, padahal gratis," ujarnya. Lho? Benarkah penyediaan infrastruktur otomatis meningkatkan pemakain internet? Mestinya dua hal yang berbeda.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penyediaan infrastruktur di satu sisi, semestinya diukur dengan aksesabilitas dan kemampuan teknis lainnya dari peralatan yang dipasang. Untuk meningkatkan pengguna internet, bukan cuma dengan menyediakan infrastruktur, tapi lebih pada mensosialisasikan manfaat penggunaan internet serta tutorial mengakses internet.

Mencermati ikhwal hotspot ini saya jadi ingat pernyataan Menteri Komunikasi dan Informatika beberapa saat lalu. "Semua alun-alun di 38 kabupaten/kota telah terpasang, kita hanya menunggu pemanfaatan oleh masyarakat, jika nanti banyak yang memanfaatkan, maka kami minta pihak Telkom memperluas jaringannya," ujar Menkominfo RI, Muhammad Nuh pada 20 Desember 2007 seperti dikutip sejumlah media.

Dia menjelaskan, dari 73 ribu desa di Indonesia, yang belum tersambung jaringan mencapai 38 ribu desa. Target nasional pada 2008-2009 semua kabupaten/kota di Indonesia akan terpasang hotspot dan tersambung jaringan internet.

Mungkin saja, masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa program internet alun alun kurang berhasil, karena baru berjalan sekitar 1 bulan. Dan seperti disampaikan oleh pihak Telkom, bahwa sosialisasi pemanfaatan internet ini sendiri masih kurang.

Namun indikasi awal ini tentu menarik dikaji, apalagi bila ke depan Telkom maupun provider internet lainnya, serta pemerintah ingin meng-internetkan masyarakat Indonesia, seperti yang telah dicanangkan di atas.


Peran Marketing

Internet termasuk hotspot, tak beda jauh dengan consumer product, memerlukan konsep pemasaran yang tepat, ketika mau dibawa masuk ke pasar. Diawali dengan penetapan strategi STP (Segmentation, Targeting dan Positioning) yang kemudian diterjemahkan dalam 5P (Product, Price, Promotion, Place, Packaging) nya sebagai taktiknya.

Pemasangan sambungan internet nirkabeldi alun-alun ini, menurut Menkominfo adalah merupakan "Langkah awal untuk membawa masyakarat Indonesia menuju masyarakat informasi." Sebuah cita-cita yang baik, hanya memang perlu diterjemahkan dalam tahapan-tahapan yang sesuai dengan sasaran masyarakat yang bakal dituju. Agar pada akhirnya tujuan mulia itu bisa tercapai.

Karena memang agak susah jika sasarannya langsung dibuat massal: menjangkau semua lapisan pasar. Apalagi yang ingin diperkenalkan adalah produk yang bermuatan teknologi tinggi, bukan sekedar mengajar masyarakat untuk mencuci tangan, seperti yang diajarkan sebuah produsen sabun.

Saya sempat berbincang dengan sejumlah kawan di Surabaya yang merupakan sasaran "pasar" hotspot gratis tersebut. Dari sisi P pertama, produk, sambungan internet yang dipasang di alun-alun kurang mampu mengakomodir need pengguna internet, karena speednya lambat, berkisar 20 Kbps.

Dari sisi P kedua, place atau tempat. "Lha siapa yang mau bawa laptop dan akses internet di alun-alun. Rasanya ya ndak nyaman (dari panas serta hujan) dan ndak aman," begitu ungkap Herry SW, pengamat dan praktisi bidang ICT di Jawa Timur ini. Apalagi, alun-alun Taman Bungkul Surabaya, kabarnya dikenal sebagai tempat yang tidak aman.

Alun-alun, selama ini, memang dikenal sebagai meeting point masyarakat (tradisional). Lalu, apakah masyarakat tradisional yang notebene biasa memanfaatkan alun-alun antara lain untuk mencari makanan klangenan, yang menjadi target pengguna hotspot. Mereka yang diharapkan menenteng laptop atau perangkat gadget lainnya ke alun-alun dan browsing internet?

Pemilihan P/place yang merupakan tempat pertemuan masyarakat sebenarnya sudah benar. Namun, ketika kita bicara memasarkan produk ICT, tentu perlu dicari P atau area pertemuan yang lebih sesuai dengan karakter produknya: tempat orang bertemu-berkumpul, aman dan syukur-syukur juga nyaman.

Seperti di Singapore, misalnya. Hotspot-hotspot dibangun dan diberikan secara gratis untuk pengguna di titik-titik dimana masyarakat bertemu dan berinteraksi secara digital, seperti di cafe, tempat-tempat clubbing, apartemen, hotel, dan sejumlah stasiun MRT yang kategori interchange seperti Cityhall, Changi, dan lainya.

Kemudian P yang lain, promotion. Dalam konteks ini sejauh mana promosi/sosialisasi dan edukasi yang sudah dilakukan atas fasilitas ICT yang sudah dipasang ini. Dari apa itu jaringan internet tanpa kabel, bagaimana memanfaatkannya, peralatan apa yang diperlukan untukmengaksesnya, gratis atau berbayar, sampai dimana saja hotspot tersebut di pasang.

Karena, layanan gratis pun belum tentu diminati masyarakat, apabila memang tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang dituju.


Menjual Alat Informasi

Sungguh ideal memang jika nantinya segala lapisan masyarakat di Indonesia bisa memanfaatkan internet tanpa kabel untuk pelbagai kepentingan: ekonomi, pendidikan, sosial, dan lainnya. Dan dari aspek segmen – jika kita bicara negara Indonesia - ini sangat variatif baik secara demografi maupun psikografi.

Dari golongan atas, menengah dan bawah. Dari golongan yang sangat mampu, sedang-sedang saja, atau yang masih berpikir besok harus makan apa.

Menjual internet untuk tujuan seperti ini memang perlu dilakukan tahapan. Jika menggunakan istilah marketing, dipilih segmen dan target yang paling memungkinkan (dan hasilnya maksimal). Dalam konteks, segmen ini tidak saja dibidik untuk menjadi pengguna tapi nantinya mereka bisa menjadi influencer untuk masuk ke segmen dan target yang lainnya.

Misalnya, internet sebagai produk jasa yang diharapkan mampu meningkatkan perekonomian rakyat pedesaan. Atau internet sebagai sarana interaksi sosial, dimana masyarakat bisa secara cepat memperoleh info tentang bahaya endemi flu burung, demam berdarah, bahaya AIDS, narkoba, dan sebagainya.

Jika STP sudah ditetapkan, semisal internet untuk peningkatan ekonomi masyarakat menengah bawah atau UKM. Maka fasilitas hotspot atau akses internet gratis bisa ditempatkan di titik-titik dimana segmen tersebut bertemu berinteraksi, atau beraktifitas termasuk mencari informasi. Selanjutnya, bagaimana mentransformasi aktifitas tradisional menjadi berbasis digital. Disinilah peran promosi dan sosialisasi diperlukan.

Masalahnya sekarang sudahkah Segmentation (S) Targeting (T) dan Positioning (P) dari 'produk' hotspot tersebut didefinisikan secara tepat? Dan upaya sosialisasi apa yang telah dilakukan untuk memberitahukan kepada publik (sasaran pasar) tentang keberadaan dan manfaat produk tersebut.

Dan kalau mau lebih sempurna bisa saja ditambah dengan riset seberapa banyak pemilik laptop dan gadget di wilayah itu yang sudah "wifi atau hotspot ready" .



- Penulis, Ventura Elisawati, adalah pratisi pemasaran yang bekerja di salah satu perusahaan telekomunikasi di Indonesia. Dapat dihubungi melalui e-mail akoe[at]vlisa.com atau melalui blog-nya di http://www.vlisa.com.

Tulisan lainnya:
- Internet Sehat? Why Not?
- SMS, Dicintai Sekaligus Dibenci (dbu/dbu)





Hide Ads