The Power of The Net

Kolom Telematika

The Power of The Net

- detikInet
Rabu, 02 Jan 2008 12:16 WIB
Jakarta - Siapa yang tak ingin populer? Dikenal banyak orang serta mendapatkan kontrak rekaman bernilai jutaan dolar? Jangan khawatir, masih banyak jalan menuju Roma. Jika "rute" konvensional belum dapat menjanjikan kesuksesan, berbagai pilihan rute alternatif masih terbuka untuk meraih ketenaran. Salah satunya dengan memanfaatkan kekuatan komunitas maya.

Hal inilah yang ditempuh oleh Marie Digby, Colbie Caillat, Tila Tequila serta puluhan (bahkan kini mungkin ratusan) musisi dan fame wanna-be di seluruh penjuru dunia. Marie melejit berkat video klip amatirnya di YouTube, sementara Colbie beroleh status sebagai musisi terpopuler tanpa label rekaman di MySpace. Dan berkat internet pula, Tila dibuatkan reality show khusus oleh media yang jadi parameter lifestyle anak muda, MTV.

Memang, internet kini menjadi salah satu alat promosi efektif untuk memperoleh jejaring di dunia hiburan. Berbagai situs yang mengandalkan jejaring dan komunitas seperti MySpace, Friendster dan Facebook serta situs video-sharing seperti YouTube kian mempermudah proses penasbihan ketenaran.

Tila Tequila, misalnya. Perempuan bernama asli Tila Nguyen ini kini menyandang multi profesi- model, presenter, plus penyanyi dan penulis lagu. Dan popularitasnya meroket berkat kejeliannya memanfaatkan teknologi internet.

Di 2001, Tila membuat situs www.TilasHotSpot.com, yang berisi profil dirinya, blog serta akses untuk foto-foto khusus dewasa.

Tak butuh waktu lama, nama perempuan berdarah Vietnam ini lantas meroket sebagai wanita terseksi di Internet versi majalah Playboy, kemudian tampil sebagai komentator di saluran TV kabel khusus musik VH1 untuk acara WebJunks's 40 Greatest Internet Superstars. Ia juga muncul di sampul Maxim dan Stuff, yang menobatkannya sebagai salah satu dari 100 Sexiest Women Online.

Tila pun menapaki dunia rekaman dengan menjadi lead singer band Jealousy, di bawah label rekaman MySpace Records dan Interscope. Terakhir, Tila meluncurkan singel "I Love U" di iTunes serta memiliki reality show bertajuk A Shot At Love With Tila Tequila di MTV!

Berbeda dengan Tila yang menjual sensualitas dirinya, Marié Digby dan Colbie Caillat menuai popularitas dari dunia maya murni lewat keempukan suara mereka. Marie yang memang berbakat di bidang tarik suara sebetulnya sudah dilirik oleh label rekaman Hollywood Records (Disney) dan merampungkan album perdananya di akhir 2006.

Kecewa dengan promosi yang minim, awal tahun 2007 gadis blasteran Jepang-Irlandia-Amerika ini mem-posting klip sederhana di YouTube. Klip ini menampilkan dirinya meng-cover lagu-lagu artis lain dengan gitar akustik, termasuk hit "Umbrella" milik Rihanna. Tak dinyana, justru klip amatiran inilah yang membuatnya populer seantero dunia. Hingga September 2007, klipnya telah ditonton 2,3 juta kali di YouTube!

Di luar tuduhan miring dari The Wall Street Journal yang menuding Marié dan Hollywood Records melakukan astroturfing -istilah untuk kampanye marketing online dengan menggerakkan kekuatan publik grassroot serta memanfaatkan status "amatir"- perempuan berusia 24 tahun ini kini melenggang sukses dengan rangkaian konser yang sold out di AS.

Sementara bagi Colbie, memiliki ayah yang berprofesi sebagai produser musik ternyata bukan jaminan untuk memuluskan karier. Ayahnya, Ken Caillat, adalah co-produser album-album milik grup rock legendaris Fleetwood Mac. Meski begitu, nama Colbie tak diperhitungkan di kancah musik internasional. Hingga ia membuat profil di MySpace dan meng-upload lagu "Bubbly", yang menyedot perhatian jutaan penggemar musik dan pengguna internet.

Menurut data MySpace, profil dan lagu gadis usia 22 tahun ini diakses sebanyak 31 juta kali oleh publik, dan Colbie dinobatkan sebagai penyanyi paling populer yang belum dikontrak oleh label rekaman. Albumnya, Coco, yang bernuansa folk-akustik ala Jack Johnson, pun laris manis di pasaran.

Memperluas Jejaring

Tak hanya artis dan musisi luar negeri, para pekerja kreatif di dunia musik Indonesia pun tak kalah piawai memanfaatkan teknologi internet untuk go international. Kebanyakan dari mereka berasal dari kalangan musisi independen atau indie- yang tak terikat dengan label rekaman besar (major label). Karena itu, mereka menjadi sangat kreatif dalam memaksimalkan keterbatasan yang ada.

Mocca misalnya, merancang situs mereka (www.mymocca.com) seatraktif mungkin untuk berinteraksi dengan penggemar. Mulai dari fitur standar macam biografi, lirik lagu dan foto hingga melengkapinya dengan layanan Podcast sehingga fans bisa mendengarkan kegiatan band kesayangan mereka. Band pop yang diawaki Arina, Toma, Riko dan Indra ini juga memanfaatkan jejaring dunia maya untuk bekerjasama dengan musisi-musisi indie luar negeri, diantaranya berduet dengan Club 8 dari Swedia.

Hal ini juga diamini oleh Johan Angergard, penggagas band Club 8 (juga dua band lainnya, The Legends dan Acid House Kings). Dalam wawancara dengan detikinet yang dilakukan via e-mail, Johan yang juga pemilik label rekaman Labrador Records ini mengakui bahwa ia bingung bagaimana manusia berkomunikasi sebelum era e-mail.

"Kami sangat mengandalkan internet, karena sebagian besar partner bisnis kami tersebar di seluruh dunia, dan jauh lebih efektif jika berkomunikasi via e-mail. Laptop saya menjadi barang wajib yang harus dibawa kemanapun. It's really nice to be able to work everywhere - I'm not forced to stay at the office all the time," ungkap Johan.

Saat melakukan rekaman duet dengan Mocca pun, kedua personil Club 8-Johan dan Karolina- belum pernah bertemu muka dengan band asal Bandung ini. Rekaman dilakukan terpisah di masing-masing negara, begitu juga pembuatan video klipnya.

Untuk berkomunikasi dengan penggemar, Johan memanfaatkan situs MySpace dan www.labrador.se, rutin mengirimkan newsletter serta memberikan MP3 gratis untuk promosi bandnya. Apakah ia tak khawatir merugi dengan maraknya download lagu-lagu ilegal via file sharing di internet? Apalagi, download lagu ilegal kini dituding sebagai salah satu penyebab jebloknya penjualan CD di kancah industri musik.

Menurut Johan, ia lebih memilih publik mengunduh lagunya secara ilegal, dibanding lagu-lagu mereka tak didengarkan sama sekali. "Namun ya, sejujurnya itu merugikan, karena kami mencari uang dari sini. Hanya saya yakin, jika mereka benar-benar suka, pasti mereka akan membelinya," jawab pria kelahiran 1974 ini.

Apa yang dilakukan oleh Marié Digby, Colbie Calliat, Mocca dan Club 8 ini merupakan fenomena "disintermediasi". Disintermediasi, menurut Joseph Straubhaar dan Robert LaRose dalam bukunya Media Now (2006) merupakan dampak dari perkembangan teknologi komunikasi via internet., yang berarti "menghilangkan peran perantara".

Tanpa perantara (baca: label rekaman besar) misalnya, musisi bisa berinteraksi langsung dengan publiknya via internet. Tanpa publisher atau manajer, calon artis bisa menjajal networking dunia hiburan yang mengantarnya ke gerbang ketenaran. "Dan semuanya berkat MySpace," ujar Tom Anderson, salah satu penggagas MySpace. Melihat kesuksesan Colbie dan Tila, tampaknya kita harus setuju dengan Tom. Welcome to the power of the Net.



(Keterangan: penulis adalah pengajar di London School of Public Relations - Jakarta dan jurnalis musik independen. Dapat dihubungi melalui e-mail hera.utoyo[at]gmail.com)

(wsh/wsh)