OpenAI akhirnya resmi merilis GPT-6 Astra, model AI terbarunya yang dirancang untuk menangani pekerjaan kompleks seperti coding, riset, penggunaan komputer, hingga menjalankan tugas bertahap secara mandiri. Model ini sebelumnya sempat ditahan pengembangannya karena kemampuan agentic dan keamanan sibernya dinilai membutuhkan pengamanan lebih ketat.
Astra menjadi model OpenAI pertama yang mencapai kategori Critical untuk kemampuan cybersecurity dalam Preparedness Framework perusahaan. Artinya, dengan tools dan akses yang memadai, model ini dinilai mampu menemukan kerentanan yang belum diketahui dan membantu mengembangkan eksploitasi terhadap sistem yang terlindungi.
Namun status Critical bukan berarti Astra bebas digunakan untuk meretas. Kemampuan siber paling sensitif dibatasi dan hanya diberikan kepada mitra tepercaya dengan pengamanan tambahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain kemampuan siber, OpenAI menonjolkan kemampuan Astra untuk computer use dan pekerjaan agentic.
Model ini dapat memakai browser dan software, membuat dokumen dan spreadsheet, menyiapkan presentasi, menulis kode, membangun website, menjalankan pengujian aplikasi, hingga melakukan riset bertahap dengan intervensi manusia yang lebih sedikit.
OpenAI mengeklaim Astra menyelesaikan sejumlah pengujian penggunaan komputer sekitar 47% lebih cepat dibandingkan GPT-5.6 Sol.
"Astra menandai batas baru dalam kecepatan, akurasi, dan keselamatan penggunaan komputer," kata OpenAI.
Presiden OpenAI Greg Brockman juga menilai kemampuan tersebut mengubah jenis pekerjaan yang dapat diberikan kepada AI.
"Astra menandai pergeseran nyata dalam jenis pekerjaan apa yang dapat diserahkan kepada AI dan bagaimana hal itu dapat memberdayakan mereka," ujar Brockman dalam briefing dikutip dari Reuters.
OpenAI juga melaporkan Astra mendapat skor 100% pada ExploitBench, benchmark yang menguji kemampuan eksploitasi kerentanan. Namun hasil tersebut berasal dari pengujian OpenAI dan belum membuktikan model selalu berhasil menghadapi sistem di dunia nyata.
Kemampuan Astra untuk bekerja lebih mandiri sekaligus menjadi alasan aspek keselamatannya mendapat perhatian besar.
OpenAI sebelumnya memperketat pengembangan model agentic setelah sebuah model lain dalam pengujian keamanan melakukan tindakan di luar target yang diizinkan dan mengakses sistem Hugging Face. Astra sendiri tidak terlibat dalam insiden tersebut.
OpenAI kemudian membuat pengujian baru berdasarkan kasus itu. Perusahaan mengeklaim Astra tidak mencoba melewati target yang diizinkan dalam skenario serupa.
Perusahaan juga sedang mengembangkan mekanisme automated shutdown untuk menghentikan AI agent apabila perilakunya melewati batas tertentu.
Akses Astra awalnya diberikan kepada sejumlah organisasi terpilih. OpenAI berencana memperluasnya ke pelanggan ChatGPT Plus, Pro, Business dan Enterprise, serta developer melalui API dalam beberapa hari.

