Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menyimpan ambisi besar untuk masa depan ekonomi digital Indonesia. Pemerintah meyakini Indonesia berpeluang menjadi salah satu kekuatan ekonomi digital dunia pada 2040.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komdigi Edwin Hidayat Abdullah mengatakan keyakinan tersebut didorong oleh besarnya pasar, pertumbuhan sektor teknologi, tingkat konektivitas masyarakat, serta berkembangnya pemanfaatan cloud dan kecerdasan buatan (AI).
"Kalau pagi ini saya berdiri di sini dan mengatakan Indonesia akan menjadi salah satu ekonomi digital terkemuka di dunia pada 2040, apakah ada yang percaya?" tanya Edwin saat menyampaikan keynote di Bali Annual Telkom International Conference (BATIC) 2026 di Bali.
Edwin membandingkan ambisi tersebut dengan perkembangan industri kendaraan listrik China. Menurutnya, sekitar 15 tahun lalu banyak pihak juga meragukan China bisa menjadi produsen kendaraan listrik terkemuka dunia.
Kini, Indonesia dinilai memiliki fondasi untuk mengejar lompatan serupa di sektor digital.
Salah satu modal Indonesia adalah pertumbuhan sektor teknologi informasi dan komunikasi yang disebut konsisten berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional.
Edwin mengatakan sektor ICT Indonesia tumbuh lebih dari 8% per tahun selama sekitar 10 hingga 15 tahun terakhir. Sementara itu, nilai ekonomi digital Indonesia saat ini disebut berada di kisaran USD 130 miliar per tahun.
"Ekonomi digital kita saat ini sekitar USD 130 miliar per tahun. Jadi sebenarnya ukurannya sudah cukup besar," kata Edwin.
Indonesia juga memiliki basis pengguna digital yang besar. Edwin menyebut sekitar 80% penduduk telah terkoneksi ke internet.
Di sisi tenaga kerja, sekitar 92% pekerja Indonesia sudah familiar menggunakan AI. Meski begitu, baru sekitar 15% yang memanfaatkannya secara produktif.
Kesenjangan tersebut menjadi salah satu tantangan yang harus diselesaikan agar AI tidak hanya digunakan untuk mencari informasi, tetapi benar-benar mampu meningkatkan produktivitas ekonomi.
Infrastruktur Jadi Fondasi
Menurut Edwin, pertumbuhan ekonomi digital tidak akan terjadi tanpa infrastruktur fisik yang kuat.
Ia menggambarkan ekosistem digital seperti sebuah bangunan bertingkat. Pada bagian paling dasar terdapat jaringan, fiber optik, menara telekomunikasi, data center, dan berbagai infrastruktur fisik lainnya.
Di atasnya terdapat cloud, kemampuan komputasi, data, platform, hingga aplikasi dan layanan digital.
AI sendiri beroperasi di sejumlah lapisan tersebut, tetapi tetap bergantung pada infrastruktur fisik sebagai fondasinya.
Karena itu, pemerintah sedang merancang ulang master plan infrastruktur digital Indonesia.
"Untuk lima tahun ke depan, penguatan connectivity menjadi salah satu fokus. Kementerian kami juga sedang merancang master plan baru infrastruktur digital," kata Edwin.
Komdigi Andalkan Strategi 6C
Untuk mendorong Indonesia menuju kekuatan ekonomi digital dunia, Komdigi menyiapkan strategi yang mencakup beberapa pilar utama.
Edwin menyebut strategi tersebut mencakup connectivity, capital, competencies, commerce, compliance, dan collaboration.
Connectivity berfokus pada penguatan jaringan dan infrastruktur digital. Capital diarahkan untuk mendukung investasi infrastruktur, riset, dan perusahaan teknologi.
Competencies menyasar peningkatan kualitas talenta digital. Indonesia disebut membutuhkan lebih dari sembilan juta orang dengan kompetensi digital, sehingga pengembangannya harus melibatkan pemerintah, perusahaan teknologi, dan masyarakat sipil.
Sementara commerce diarahkan untuk memperluas pemanfaatan transaksi digital, sedangkan compliance tidak hanya dipandang sebagai instrumen perlindungan.
"Kepatuhan bukan hanya untuk melindungi. Kepatuhan harus memungkinkan pertumbuhan. Pemerintah dapat bertindak sebagai katalis untuk mempercepat pertumbuhan ekosistem," ujar Edwin.
Komdigi juga menekankan bahwa regulasi digital tidak seharusnya dibuat sekadar untuk mengontrol industri.
Edwin mengatakan pemerintah akan lebih fokus mengatasi kegagalan pasar, konsentrasi pasar, asimetri informasi, dominasi data, dan perlindungan konsumen.
"Tujuan kami bukan mengatur kesuksesan, tetapi memastikan pasar digital tetap kompetitif, inovatif, mampu berkembang, dan memberikan manfaat bagi kemakmuran ekonomi," katanya.
Pendekatan tersebut juga diterapkan dalam pengembangan AI. Pemerintah telah menyelesaikan roadmap AI yang mencakup investasi, riset dan pengembangan, sumber daya, data, etika, serta kebijakan.
Edwin menegaskan inklusivitas menjadi salah satu prinsip utama agar manfaat AI dan cloud dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Pada akhirnya, Edwin menilai ambisi menjadi kekuatan ekonomi digital global tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan investasi.
Ia menekankan pentingnya institusi yang inklusif, pembangunan sumber daya manusia, kolaborasi, serta transparansi dan akuntabilitas.
"Yang paling penting adalah transparansi dan akuntabilitas untuk membangun kepercayaan. Itu menjadi salah satu isu paling penting dalam digitalisasi, AI, dan cloud," pungkas Edwin.
Simak Video "Video Pemenang Apresiasi Konektivitas Digital Kategori Mitra Sinyal 3T-Pengguna Satria 1"
(afr/afr)