Bayangkan wajah kita muncul sebagai pemeran dalam sebuah drama, padahal kita tidak pernah datang ke lokasi syuting. Fenomena itu mulai menjadi kenyataan di China seiring pesatnya perkembangan microdrama atau drama China (dracin) berbasis kecerdasan buatan (AI).
Microdrama merupakan serial video pendek dengan format vertikal yang dirancang untuk ditonton melalui smartphone. Episode biasanya hanya berlangsung sekitar satu atau dua menit.
Karena tren ini, orang biasa kini bisa menyewakan atau melisensikan wajah mereka kepada perusahaan AI. Wajah tersebut kemudian digunakan sebagai bahan untuk menghasilkan karakter digital dalam video, termasuk microdrama yang dibuat menggunakan AI.
Tren tersebut berkembang seiring ledakan industri microdrama China. Menurut data China Netcasting Services Association yang dikutip dari Rest of World, sekitar 128 ribu microdrama dirilis di China sepanjang Januari-Maret 2026. Lebih dari 95% di antaranya menggunakan AI dalam proses produksinya.
Para pengamat melihat munculnya AI generatif membuat wajah manusia memiliki nilai ekonomi baru. Platform seperti ActID di Shenzhen dan New Claw di Chengdu memungkinkan pengguna mengunggah beberapa foto wajah, kemudian memberikan izin agar kemiripannya digunakan dalam konten yang dibuat AI.
Pengguna dapat menentukan penggunaan wajah mereka, sementara produser bisa mencari wajah berdasarkan karakteristik tertentu, seperti usia, jenis kelamin, bentuk wajah, hingga kesan visual tertentu.
Wajah yang disewakan itu bukan berarti pemiliknya harus benar-benar berakting. Foto pengguna menjadi bahan dasar untuk membuat karakter digital. AI kemudian dapat menganimasikan wajah tersebut, membuatnya berbicara, bergerak, dan memainkan berbagai peran.
Model bisnis ini pada dasarnya mengubah wajah manusia menjadi semacam aset digital yang bisa dilisensikan. Bagi sebagian orang, sistem tersebut menawarkan sumber penghasilan tambahan.
Laporan Rest of World menyebutkan, harga lisensi wajah di sejumlah platform berada di kisaran 99 hingga 500 yuan, atau sekitar Rp260 ribu hingga Rp1,3 juta, tergantung skema penggunaan dan kesepakatannya.
New Claw, salah satu platform yang menyediakan layanan tersebut, melihat lisensi wajah sebagai cara agar masyarakat tetap bisa memperoleh penghasilan dari identitas digitalnya ketika AI semakin mengubah industri hiburan.
"Baik aktor maupun model memilih melisensikan wajah mereka di platform kami atau tidak, AI sudah mengganggu industri ini," kata Long Lyu, kepala operasional New Claw.
Menurut Lyu, melisensikan foto wajah memberikan kesempatan bagi seseorang untuk memperoleh penghasilan sambil tetap menjalani kariernya di dunia nyata. Dengan kata lain, pemilik wajah tidak harus menjadi aktor profesional untuk memiliki peluang tampil dalam konten yang dibuat AI.
Bagi rumah produksi, sistem ini juga menawarkan cara baru membuat konten. Produser dapat masuk ke katalog wajah dan memilih karakter yang sesuai dengan kebutuhan cerita. Beberapa platform bahkan menyediakan kategori berdasarkan tampilan atau kesan tertentu.
Setelah wajah dipilih dan hak penggunaannya diperoleh, AI dapat mengubahnya menjadi karakter dalam video. Proses tersebut memangkas kebutuhan untuk melakukan casting, syuting, hingga pengambilan gambar ulang secara konvensional.
Hal ini semakin menarik bagi industri microdrama yang membutuhkan produksi dalam jumlah sangat besar. Dalam tiga bulan pertama 2026 saja, sekitar 128 ribu microdrama dirilis di China. Dengan lebih dari 95% menggunakan AI, kebutuhan terhadap bahan visual yang dapat diproses mesin pun ikut meningkat.
(rns/afr)