Belajar kecerdasan buatan (AI) biasanya identik dengan menulis kode pemrograman atau memahami teori yang rumit. Namun, pengalaman berbeda dirasakan para peserta AWS Summit Jakarta 2026. Di sana, para peserta, termasuk detikINET diajak menjadi pelatih sepak bola.
Tentu saja bukan melatih pemain sungguhan, melainkan lima AI agent yang bertanding di lapangan virtual. Tugas kami bukan menyusun formasi atau memberi instruksi dari pinggir lapangan, melainkan merangkai sejumlah prompt agar para pemain AI bisa bekerja sama, menyerang, bertahan, hingga mengambil keputusan sendiri saat pertandingan berlangsung.
Pengalaman itu detikINET rasakan saat menjajal Agentic Football Cup (AFC), workshop berbasis game yang baru diluncurkan Amazon Web Services (AWS) untuk mengajarkan konsep AI agent kepada para pengembang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di awal sesi, peserta diminta membentuk sebuah tim yang terdiri dari lima AI agent. Masing-masing memiliki peran, perilaku, dan kemampuan pengambilan keputusan yang berbeda. Layaknya seorang pelatih, kami harus menyusun strategi lewat instruksi atau prompt yang akan menjadi 'otak' para pemain AI tersebut.
Menariknya, hasil pertandingan sangat bergantung pada kualitas instruksi yang diberikan. Mengubah satu prompt saja bisa mengubah cara tim bermain, mulai dari pola menyerang, bertahan, hingga cara setiap AI berkoordinasi dengan rekan setimnya.
Alih-alih membaca teori tentang multi-agent AI, kami bisa melihat langsung bagaimana beberapa AI saling berkomunikasi dan mengambil keputusan secara mandiri untuk mencapai tujuan yang sama.
Head of Technology, Singapore Enterprise AWS ASEAN, Joel Garcia, mengatakan pendekatan tersebut sengaja dibuat agar konsep AI agent yang kompleks menjadi lebih mudah dipahami.
Head of Technology, Singapore Enterprise AWS ASEAN, Joel Garcia Foto: Rachmatunnisa/detikINET |
"AI agentik kini beralih dari tahap prototipe ke tahap produksi, dan para pengembang perlu mempelajari cara mengelola beberapa agen yang bekerja sama. Agentic Football Cup memberi mereka kesempatan untuk melakukannya secara hands-on dengan membentuk tim yang terdiri dari lima agen AI, melatih mereka, dan bersaing dengan tim lain," ujar Joel.
Menurut Joel, pembelajaran berbasis permainan juga membantu peserta memahami bagaimana AI agent akan digunakan di dunia nyata. "Ini adalah cara belajar berbasis permainan untuk memahami bagaimana agen-agen tersebut bekerja, serta keterampilan apa saja yang dibutuhkan untuk mengarahkan dan melatih mereka di tahap produksi," lanjutnya.
Belajar AI Lewat Pertandingan
Agentic Football Cup merupakan kompetisi global yang menggunakan Amazon Bedrock AgentCore sebagai fondasi untuk membangun sistem multi-agent AI.
Dalam workshop ini, peserta belajar bagaimana beberapa AI agent dapat saling memahami konteks, berkomunikasi, serta bekerja sama menyelesaikan tujuan yang sama-konsep yang kini mulai banyak diterapkan dalam berbagai aplikasi AI modern.
Setelah tim selesai dibangun, peserta dapat mengadu strategi melawan tim lain. Bukan kemampuan bermain bola yang menentukan kemenangan, melainkan bagaimana setiap AI agent diberi instruksi agar mampu bekerja sebagai satu kesatuan.
Hasil pertandingan sangat bergantung pada kualitas instruksi/prompt yang diberikan. Foto: AWS Summit Jakarta |
Kompetisi ini juga membuka kesempatan bagi para peserta untuk melaju ke grand final yang akan digelar di ajang AWS re:Invent 2026 di Las Vegas, Amerika Serikat. Juara utama akan membawa pulang hadiah sebesar USD 50 ribu atau sekitar Rp 900 juta.
AWS menyebut pendekatan belajar berbasis game bukan hal baru. Sejak 2018, lebih dari 560 ribu pengembang telah mengikuti berbagai kompetisi AI dan machine learning seperti AWS DeepRacer dan AWS AI League. Kini, konsep tersebut diperluas untuk membantu para pengembang memahami era baru AI agent melalui pengalaman langsung.
(rns/fay)

