Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Awalnya Anti AI, Kini Guru di Tapanuli Ini Justru Mengajar Pakai AI

Awalnya Anti AI, Kini Guru di Tapanuli Ini Justru Mengajar Pakai AI


Rachmatunnisa - detikInet

Ilustrasi coding, ilustrasi teks editor
Ilustrasi coding. Foto: Photo by Sai Kiran Anagani on Unsplash
Jakarta -

Di tengah kekhawatiran banyak guru terhadap penggunaan kecerdasan buatan (AI) di sekolah, Fajar Darojat justru mengalami perubahan pandangan yang cukup drastis. Guru fisika di SMAN 1 Matauli Pandan, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara itu mengaku sempat enggan mempelajari AI karena menganggap teknologi tersebut hanya menjadi alat untuk mencontek.

"Awalnya saya agak malas juga, ngapain alat contek saya pelajari. Tapi setelah saya pikir-pikir lagi, ini salah satu jalan untuk meningkatkan kapasitas diri. Apalagi diberikan secara gratis. Kenapa harus saya tolak mentah-mentah tanpa setidaknya mencoba dulu?" ujar Fajar saat berbagi pengalamannya di salah satu sesi media di AWS Summit Jakarta di Ritz Carlton, Pacific Place, Kamis (6/8/).

Keputusan untuk mencoba itulah yang ternyata mengubah cara pandangnya terhadap AI. Fajar adalah guru Fisika International Baccalaureate Diploma Programme (IBDP) di SMAN 1 Matauli Pandan, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, sekitar 250 kilometer dari Kota Medan. Ia menyebut, mengajar di daerah membuat akses terhadap pelatihan teknologi terbaru tidak semudah di kota-kota besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kesempatan itu datang saat Amazon Web Services (AWS) bekerja sama dengan YPKBI menghadirkan program pelatihan AI generatif IndonesiapandAI bagi para guru. Menariknya, Fajar mengikuti pelatihan tersebut sambil menikmati waktu libur di Pulau Nias.

"Saya ikut pelatihannya sambil liburan di Nias. Saya sambil tiduran di hotel, tapi tetap mengikuti pelatihannya," katanya.

ADVERTISEMENT

Setelah menyelesaikan pelatihan, Fajar seolah mendapat pencerahan. Pandangannya terhadap AI berubah. "Saya sadar AI memang bisa dimanfaatkan sebagai alat mencontek kalau kita lihat dari sisi negatif. Tapi kalau kita lihat dari sisi positifnya, AI bisa dimanfaatkan sebagai learning assistant," ujarnya.

AWS Summit JakartaFajar saat berbagi pengalamannya di salah satu sesi media di AWS Summit Jakarta di Ritz Carlton, Pacific Place, Kamis (6/8/). Foto: Rachmatunnisa/detikINET

Bikin Asisten Belajar Fisika

Sebagai bagian dari program tersebut, setiap peserta diminta membangun aplikasi berbasis AI menggunakan PartyRock, platform AI dari AWS. Fajar kemudian mengembangkan sebuah learning assistant untuk membantu siswa mempelajari fisika.

Aplikasi tersebut tidak hanya menjelaskan konsep dan rumus, tetapi juga menampilkan ilmuwan yang berperan dalam pengembangan teori, contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari, referensi bacaan lanjutan, hingga soal latihan yang langsung memberikan umpan balik kepada siswa.

Karena mengajar di program internasional, Fajar juga melengkapi aplikasi tersebut dengan kemampuan mengevaluasi jawaban siswa dalam bahasa Inggris. "Tool tersebut sudah digunakan oleh peserta didik saya di kelas," katanya.

Menurut Fajar, pengalaman membangun aplikasi AI secara langsung jauh lebih berharga dibanding sekadar mempelajari teori. Melalui program tersebut, ia juga berhasil meraih sertifikasi AWS Certified AI Practitioner.

"Informasi yang saya dapat terkait AWS PartyRock ini benar-benar sangat bermanfaat. Terlepas saya mendapatkan sertifikat atau tidak, saya memang sudah merencanakan menggunakan ini di kelas," ujarnya.

Ia juga menilai materi sertifikasi tidak hanya berfokus pada produk AWS. "Sekitar 70% materinya berkaitan dengan pemahaman AI, sedangkan 30% tentang produk AWS. Jadi kalau memahami konsep AI, peluang untuk lulus juga besar," katanya.

AWS Summit JakartaYashinta Bahana Head APJ Market Expansion & Strategic Partnerships AWS diapit dua peserta AWS Summit Jakarta Fajrianwar Fachrul dan Fajar Darojat. Foto: Rachmatunnisa/detikINET

Ingin Menularkan ke Guru Lain

Tak ingin berhenti di ruang kelasnya sendiri, Fajar berencana membagikan pengalaman tersebut kepada rekan-rekan guru lainnya di Tapanuli Tengah.

"Saya ingin menyebarkan tools ini dulu di lingkungan sekolah, karena saya sudah merasakan manfaatnya. Saya ingin guru-guru lain juga merasakan manfaatnya, dan siswa di kelas lain juga bisa menggunakannya," ujarnya.

Fajar mengaku pencapaian yang paling membanggakan bukanlah sertifikat yang berhasil diraih, melainkan keyakinan bahwa guru dari daerah juga mampu menguasai teknologi AI.

"Meraih sertifikasi AWS AI menunjukkan kepada saya bahwa seorang guru dari daerah pinggiran dapat mencapai standar yang sama dengan para profesional di bidang ini. Sekarang saya merasa percaya diri untuk mengajarkan AI kepada siswa dan rekan-rekan pendidik saya, karena saya tidak hanya membicarakannya. Saya sudah memanfaatkan dan berkembang bersamanya," kata Fajar.

Sementara itu, Head APJ Market Expansion & Strategic Partnerships AWS Yashinta Bahana mengatakan melalui program IndonesiapandAI, AWS ingin peserta tidak hanya belajar menggunakan AI, tetapi juga mampu membangun solusi yang dapat dimanfaatkan di dunia nyata.

"Kami ingin membangun para builders, bukan sekadar orang yang memakai AI. Karena itu peserta tidak hanya belajar, tetapi juga diminta membuat aplikasi menggunakan AI," ujar Yashinta.

Sejak 2017, AWS mencatat telah membantu lebih dari 1,3 juta masyarakat Indonesia mengembangkan keterampilan cloud dan AI melalui berbagai program pelatihan, sertifikasi, dan kolaborasi dengan institusi pendidikan.



(rns/rns)






Hide Ads