Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
3 Sosok Genius di Balik Ledakan AI China, Silicon Valley Ketar-ketir

3 Sosok Genius di Balik Ledakan AI China, Silicon Valley Ketar-ketir


Fino Yurio Kristo - detikInet

28 January 2025, Brandenburg, Sieversdorf: The app from Chinese AI start-up DeepSeek (r) and the app from ChatGPT can be seen on a smartphone. The Chinese start-up DeepSeek has triggered a stock market quake with the prospect of cheaper development of artificial intelligence. Photo: Patrick Pleul/dpa (Photo by Patrick Pleul/picture alliance via Getty Images)
DeepSeek sebagai penantang ChatGPT. Foto: Patrick Pleul/dpa/picture alliance via Getty Images
Jakarta -

Kemajuan pesat China di bidang kecerdasan buatan (AI) telah membawa para pendiri DeepSeek, Z.ai, dan Moonshot AI ke panggung global. Perusahaan mereka menantang Silicon Valley dengan model AI tangguh dan lebih terjangkau.

Industri AI China mendapat momentum beberapa bulan terakhir setelah Moonshot AI merilis Kimi K3, model AI open weight terbesar dunia, sementara Z.ai memperkenalkan GLM-5.2, sistem open source terdepan lainnya. Bersama DeepSeek, mereka memperkuat posisi China sebagai pesaing terbesar Amerika Serikat di ranah AI.

Berikut tiga pendiri di balik kebangkitan tersebut, dikutip detikINET dari VNExpress:

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Liang Wenfeng: DeepSeek

Liang menjadi wajah ledakan AI China setelah model open source buatan DeepSeek menarik perhatian global karena performanya setara dengan sistem-sistem terdepan Barat dengan biaya pengembangan jauh lebih kecil.

Lahir di Zhanjiang, Liang mendirikan hedge fund High-Flyer bersama rekan kuliah sebelum memisahkan DeepSeek dari divisi AI perusahaan tersebut tahun 2023. Keuntungan High-Flyer memungkinkan perusahaan mengumpulkan ribuan GPU canggih, yang memberi DeepSeek daya komputasi untuk mengembangkan model AI mutakhir tanpa bergantung pada modal ventura tradisional.

ADVERTISEMENT

DeepSeek meledak di panggung global Januari 2025 dengan peluncuran model penalaran R1, yang diklaim mampu menandingi ChatGPT milik OpenAI dalam beberapa benchmark, dengan biaya pelatihan jauh lebih rendah. Pendekatan open source yang mereka gunakan menarik minat pengembang dan peneliti dari seluruh dunia.

Liang pun menjadi salah satu pengusaha teknologi paling berpengaruh di China. Majalah Time memasukannya ke dalam daftar 100 orang paling berpengaruh di dunia tahun 2025, dengan menyebut kemunculannya sebagai momen ketika dominasi teknologi AS mulai dipertanyakan.

Pria berusia 41 tahun ini jadi pendiri perusahaan AI terkaya. Estimasi kekayaannya USD 36 miliar setelah penggalangan dana DeepSeek bulan Juni yang menaikkan valuasi perusahaan menjadi USD 50 miliar. Menurut Bloomberg, ia menduduki peringkat di atas Presiden OpenAI Greg Brockman dan salah satu pendiri Anthropic Dario Amodei, sekaligus menjadi orang terkaya kedelapan China.

Meski DeepSeek terkenal, Liang tetap jarang tampil. Dalam wawancara langka tahun 2024 dengan media China Anyong, Liang mengatakan China harus berevolusi dari sekadar pengadopsi teknologi luar negeri menjadi pencipta inovasi.

Tang Jie: Z.ai

Profesor Universitas Tsinghua, Tang Jie, menghabiskan hampir dua dekade membantu membentuk talenta AI China sekaligus mendirikan salah satu perusahaan AI terdepan negara tersebut.

Tang ikut mendirikan Zhipu AI, kini dikenal sebagai Z.ai, tahun 2019 bersama dosen dan alumni dari Universitas Tsinghua. Perusahaan ini kini menjadi salah satu pengembang AI terdepan di China. Model terbarunya, GLM-5, bersaing dengan Claude Opus milik Anthropic dalam benchmark pemrograman dan agen AI.

Investor semakin memandang Z.ai sebagai salah satu perusahaan AI teratas di China. Antusiasme investor mendorong kebangkitan pesat perusahaan, di mana Z.ai baru-baru ini mengumumkan penjualan saham USD 4 miliar di Hong Kong dan berencana menctatakan saham di Shanghai.

Lonjakan ini membawa Tang masuk jajaran miliarder, dengan Forbes memperkirakan kekayaannya USD 5 miliar. Lahir 1977, Tang bergabung dengan Departemen Ilmu Komputer Universitas Tsinghua di 2006. Ia menerbitkan lebih dari 100 makalah penelitian dan menciptakan AMiner, platform pencarian akademis yang memetakan hubungan antar peneliti, konferensi, dan publikasi ilmiah.

Tang juga memimpin pengembangan Wu Dao, model AI bahasa alami berskala super besar pertama di China yang diperkenalkan di 2021. Di situs akademisnya, Tang menyatakan bahwa ia mendedikasikan seluruh upayanya untuk memajukan Kecerdasan Buatan Umum (AGI).

Dalam memo internal kepada karyawan, Tang menegaskan AI mutakhir harus tetap dapat diakses luas, bukan dikendalikan sekelompok kecil perusahaan dan bukan untuk komersialisasi jangka pendek.

Yang Zhilin: Moonshot AI

Yang muncul sebagai bintang baru di industri AI China setelah Moonshot AI meluncurkan Kimi K3, model AI open-weight terbesar dunia, pada bulan Juli. Menurut Business Insider, kemampuan pemrograman dan agen AI model ini mampu menyaingi sistem terdepan dari OpenAI dan Anthropic dengan biaya operasional jauh lebih rendah.

Pakar AI menyebut Kimi K3 sebagai model terbuka pertama yang berhasil mengungguli pesaing-pesaing proprietary dalam pengujian rekayasa web komprehensif, dan menjadi salah satu model open-source yang paling mendekati batas terdepan AI.

Yang meraih gelar sarjana di Universitas Tsinghua sebelum menyelesaikan gelar Ph.D. dalam ilmu komputer di Carnegie Mellon University. Selama masa studi doktoralnya, ia magang di Google Brain dan Meta, serta ikut menulis karya ilmiah bersama para ilmuwan AI ternama. Meski Apple sempat dikabarkan ingin merekrutnya, Yang kembali ke China pada tahun 2023 untuk mendirikan Moonshot AI.

Startup ini mengumpulkan dana lebih dari USD 2 miliar dari para investor termasuk Meituan, China Mobile, dan CPE. Total pendanaan kumulatifnya melampaui USD 5,5 miliar, sementara valuasi perusahaannya mencapai sekitar $USD 0 miliar pada bulan Juni menurut laporan Reuters. The Telegraph juga melaporkan valuasi yang sama, yang memberi Yang kepemilikan saham bernilai miliaran dolar.

Dalam wawancara tahun 2024 dengan jurnalis teknologi China, Yang mengatakan tujuannya adalah mengubah dunia dalam 10 hingga 20 tahun ke depan dengan membangun perusahaan yang mampu memimpin generasi AI berikutnya.

Peluncuran Kimi K3 sempat mengguncang pasar keuangan global, memicu aksi jual yang menghapus ratusan miliar dolar nilai saham teknologi utama AS, termasuk Google dan Nvidia. Para analis menyamakan reaksi pasar ini dengan disrupsi yang dipicu oleh terobosan DeepSeek awal tahun ini.



(fyk/fyk)






Hide Ads