Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Rakyat vs Raksasa Teknologi, Puluhan Ditahan Karena Protes Data Center

Rakyat vs Raksasa Teknologi, Puluhan Ditahan Karena Protes Data Center


Fino Yurio Kristo - detikInet

Ilustrasi Data Center
Ilustrasi data center. Foto: Dok. Princeton Digital Group
Jakarta -

Data center, terutama untuk AI, makin marak dibangun walau dinilai mencemari lingkungan dan boros listrik. Di Amerika Serikat, makin banyak yang memprotesnya. Di tahun 2026 ini, semakin banyak orang Amerika nekat mengambil risiko ditahan dengan memprotes pembangunan data center.

Sejauh ini di AS, Futurism mencatat setidaknya ada 37 penangkapan akibat protes terkait data center. Selain itu, ada 12 kasus tambahan di mana polisi turun mencegah pendemo atau pembicara yang ingin melabrak pemimpin daerah yang mengizinkan data center. Angkanya kemungkinan jauh lebih tinggi karena kasus ini sering tak masuk berita.

Berbeda dari berbagai momen pergolakan politik, aktivis anti data center sulit dikelompokkan ke demografi tertentu. Latar belakangnya beragam, dari petani pemilik lahan hingga guru fisika, dari Generasi Z hingga boomers, serta warga pedesaan hingga pinggiran kota.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Mereka yang ditangkap punya satu kesamaan, sama-sama merasa bahwa tindakan pejabat yang terpilih secara demokratis gagal mencerminkan keinginan warga yang mereka wakili dan memilih tunduk pada raksasa teknologi.

Intimidasi di Ruang Publik

Ambil contoh kasus Pablo Payan (42 tahun), manajer pemeliharaan asal Indiana. Dalam rapat umum bulan Mei untuk membahas rencana pembangunan data center raksasa Amazon di Kota Hobart, Payan menolak menyebut identitas untuk dicatat sebelum berbicara. Ini berujung pada upaya polisi mengeluarkannya dari ruangan.

ADVERTISEMENT

Saat petugas menggiringnya keluar, Payan mengaku ia bertanya mengapa dirinya diusir. Pertanyaan itu justru membuat polisi menangkapnya atas tuduhan masuk tanpa izin dan mengganggu ketertiban umum.

"Menurut saya, saya diusir untuk membuktikan bahwa hukum ada di pihak mereka, dan jika masyarakat terus mencoba mengekspresikan diri serta berbicara, mereka juga akan diintimidasi atau ditangkap oleh penegak hukum. Jadi, menurut saya itu adalah ajang pamer kekuasaan," ujarnya.

Demonstrasi-demonstrasi hampir seluruhnya damai dan baru memanas menjadi konfrontasi fisik ketika polisi mulai agresif. Banyak tuduhan pelanggaran muncul hanya karena para aktivis melanggar aturan sepele seperti berbicara sedikit melebih batas waktu yang ditentukan.

Lux Claridge, guru fisika dari Emporia, Kansas, ditangkap hanya karena bertepuk tangan mendukung warga yang berbicara menentang usulan pembangunan kawasan pusat data seluas 1.000 hektar. Ia dianggap melanggar aturan mengenai larangan bertepuk tangan.

"Saya sangat yakin bahwa bertepuk tangan adalah hak Amandemen Pertama yang saya miliki. Saya berhak melakukannya selama saya tidak mengganggu ketertiban, dan saya tetap berargumen bahwa saya sama sekali tidak mengganggu," sebutnya.



(fyk/rns)




Hide Ads