Belakangan muncul sebuah tips keamanan baru yang unik dan tengah viral di media sosial: Jika Anda merasa seseorang merekam Anda secara diam-diam menggunakan kacamata pintar (smart glasses), segera putar lagu Disney.
Saran ini mulai beredar luas di platform seperti LinkedIn dan Threads, merespons maraknya tren pengguna kacamata pintar Meta yang merekam perempuan, menjahili pekerja layanan, dan memposting video orang asing ke internet tanpa izin.
Kasus terbaru adalah seorang kreator konten Indonesia yang merekam seorang usher di GIIAS 2026 menggunakan kacamata pintar, tanpa persetujuan, dan dibuat menjadi konten dengan narasi "cara deketin cewe".
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Taktik 'Copyright Hacking'
Teori di balik saran ini dikenal dengan istilah "copyright hacking" (peretasan hak cipta). Logikanya, jika ada lagu berhak cipta (seperti milik Disney yang dikenal sangat ketat) terdengar sebagai latar belakang video, sistem otomatis pada platform seperti YouTube, TikTok, atau Instagram akan mendeteksinya.
Sistem seperti Content ID milik YouTube kemudian akan mengambil tindakan, baik itu memblokir video agar tidak bisa diunggah, membungkam (mute) suaranya, atau mengalihkan seluruh pendapatan iklan (adsense) ke pihak pemilik hak cipta lagu tersebut.
"Karena musik Disney jauh lebih dilindungi (oleh sistem) ketimbang perempuan," tulis salah satu pengguna X/Twitter dengan nada ironis, seperti dikutip dari Mashable, Senin (3/8/2026).
Apakah efektif?
Secara teori, memutar lagu Disney memang bisa membuat video lebih sulit diunggah atau tidak menguntungkan bagi pelaku. Namun, taktik ini sama sekali tidak memberikan jaminan keamanan mutlak.
Platform sering kali hanya melakukan demonetisasi tanpa menghapus video. Selain itu, si perekam bisa dengan mudah mengedit videonya: memotong durasi, menghapus audio, mengganti suara latar, atau menggunakan aplikasi AI untuk memisahkan suara percakapan dari musik Disney tersebut.
Celah terbesar dari trik ini adalah fakta bahwa korban sering kali tidak sadar bahwa mereka sedang direkam. Kacamata pintar seperti Meta Ray-Ban didesain agar terlihat persis seperti kacamata biasa. Walaupun ada lampu indikator kecil saat merekam, banyak orang tidak memperhatikannya atau tidak tahu apa arti lampu tersebut.
Banyak perempuan melaporkan bahwa mereka merasa sedang mengobrol biasa dengan pria asing, tanpa menyadari bahwa interaksi tersebut direkam untuk dijadikan konten "cara menggaet wanita" dan ditonton jutaan orang.
Polisi juga pernah gunakan taktik serupa
Menariknya, penggunaan musik untuk menangkal kamera bukanlah hal yang sama sekali baru. Taktik ini sebelumnya justru sering digunakan oleh pihak kepolisian di Amerika Serikat.
Pada April 2022, seorang polisi di Santa Ana, California, sengaja memutar lagu-lagu Disney (Toy Story, Encanto, Mulan) dari mobil patrolinya ketika seorang YouTuber merekam mereka. Saat ditanya alasannya, polisi tersebut terang-terangan menjawab bahwa itu dilakukan agar si perekam terkena pelanggaran hak cipta.
Insiden serupa juga pernah terjadi di Beverly Hills (polisi memutar lagu The Beatles) dan Oakland (memutar lagu Taylor Swift) untuk mencegah aktivis mengunggah video kinerja mereka ke YouTube.
Respons platform masih lambat
Saat ini, platform media sosial mulai mengambil tindakan. Kepala Instagram, Adam Mosseri, baru-baru ini menyatakan akan menghapus video kacamata pintar yang mengeksploitasi atau melecehkan orang lain. Meta juga telah memblokir dua akun besar pengunggah konten pickup kacamata pintar yang memiliki lebih dari 1 juta pengikut.
Meski begitu, moderasi ini bertindak secara reaktif--artinya sistem baru bergerak setelah video tersebut diunggah dan dilaporkan. Pada saat video itu ditindak, korban mungkin sudah terlanjur viral dan ditonton jutaan kali.
(asj/asj)

