Kemah Selamatkan Pecandu Internet

Kemah Selamatkan Pecandu Internet

- detikInet
Rabu, 21 Nov 2007 08:49 WIB
Jakarta - Beragam cara digunakan para orangtua untuk mengobati anaknya dari kecanduan internet. Mulai dari menghentikan akses internet, menggunakan psikiater di klinik konseling hingga memasukkan sang anak ke program kemah dengan latihan ala militer.

Nah, dari berbagai metode pengobatan tersebut, metode berkemah ternyata kian dipercaya untuk menangani para pecandu internet yang sebagian besar merupakan remaja ini. Padahal, prosedur pengobatan yang dilakukan dibumbui dengan latihan ala militer yang terkenal cukup berat.

Salah satu negara yang mengadopsi metode ini adalah Korea Selatan (Korsel). Mereka baru membuka program penanganan kecanduan internet yang diberi nama The Jump Up Internet Rescue School di Mokcheon, Korea Selatan.

Sama dengan program sejenis yang telah lebih dulu ada di Cina, tempat ini menggunakan metode rehabilitasi yang digabungkan dengan latihan fisik dan penanganan secara militer.

Penetrasi internet di Korsel memang bisa dibilang sudah tinggi. Terbukti, Telegraph yang dikutip detikINET, Rabu (21/11/2007) melansir, 90 persen rumah di negeri ginseng ini sudah terkoneksi broadband. Ironisnya, kemudahan akses internet ini diikuti oleh maraknya pecandu internet di kalangan remaja. Bahkan, beberapa remaja dilaporkan tewas karena kelelahan setelah berhari-hari online, seperti yang juga terjadi di Cina.

Tak ayal, hal ini melecut pemerintah Korea untuk memberi perhatian khusus. Mereka pun membuat 140 unit klinik konseling serta membuka program rehabilitasi yang khusus menangani kecanduan internet di sekitar 100 rumah sakit. Belum puas, mereka lalu membuka program kemah penyelamatan (rescue camp) para pecandu internet.

Kemah khusus ini direncanakan berlangsung selama 12 hari dan hanya diikuti oleh pria. Selama 'ditatar' peserta tidak diizinkan untuk menggunakan komputer dan hanya diberi waktu satu jam menggunakan ponsel dalam sehari.

Lee Yun-hee, salah satu penasihat program ini mengatakan, hal itu disengaja untuk mengembalikan gaya hidup peserta yang sebelumnya lebih banyak menghabiskan di dunia maya untuk kembali ke dunia nyata.

Untuk mendapatkan hasil rehabilitasi yang maksimal, aturan yang diterapkan juga dijanjikan bakal dijalankan secara ketat. Terlebih dari para peserta yang ingin kabur di tengah program berlangsung. (ash/wsh)