Korea Utara, meskipun negara yang privat, tetap memiliki smartphone untuk digunakan masyarakat di dalamnya. Tentunya, ada sejumlah perbedaan smartphone di negara yang dipimpin Kim Jong Un dengan negara lain.
Selama sebagian besar dekade pertama era ponsel pintar di Korea Utara, hanya ada beberapa merek yang muncul di sana. Merek Arirang dan Pyongyang hadir di awal tahun 2009 ketika smartphone pertama kali dijual.
Merek bernama Phurunhanal dan Jindallae kemudian mengikuti. Namun, saat ini, situasinya sudah sangat berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di samping empat merek tersebut, banyak nama baru telah memasuki pasar. Misalnya, Masudan yang memiliki produk smartphone tipe flip.
Berikut ini fakta menarik seputar smartphone di Korea Utara, dikutip detikINET dari 38north, Jumat (26/6/2026).
Buatan Korea Utara?
Dari ponsel-ponsel yang dirinci dalam berbagai laporan, semuanya tampaknya diproduksi oleh produsen peralatan asli (OEM) China. Akan tetapi, sejumlah klaim menyebut ponsel-ponsel itu diproduksi di Korea Utara.
Alur produksi yang diasumsikan dimulai dari produsen OEM China. Setelah ponsel diproduksi, ponsel tersebut dikirim ke Korea Utara di mana sistem operasi dan aplikasi diinstal oleh masing-masing merek.
Android yang dimodifikasi
Sistem operasi dalam smartphone yang beredar di Korut merupakan varian Android yang telah dimodifikasi, mencakup beberapa modifikasi keamanan. Yang terpenting adalah sistem tanda tangan digital yang mencegah ponsel menerima aplikasi atau konten apa pun yang belum ditandatangani secara digital oleh pemerintah Korea Utara.
Sistem ini sangat penting dalam menjaga kendali pemerintah atas ekosistem ponsel pintar dan mencegah ponsel pintar digunakan untuk mengonsumsi media yang tidak diizinkan. Selain itu juga untuk menghindari instalasi aplikasi yang tidak disetujui.
Smartphone Madusan 505. Foto: Madusan |
Smartphone Arirang 221 (kiri) dan smartphone Blu Bold N2 (kanan). Foto: NK TechLab |
Sistem ini dipadukan dengan aplikasi bernama Trace Viewer yang mengambil tangkapan layar saat ponsel sedang digunakan. Pengguna dapat melihat waktu dan tanggal setiap tangkapan layar diambil dan aplikasi yang digunakan pada saat itu, tetapi mereka tidak dapat melihat tangkapan layar atau menghapusnya.
Tidak jelas seperti apa tangkapan layar ini digunakan oleh pihak berwenang, tetapi keberadaan aplikasi ini pasti memiliki efek 'Big Brother'. Artinya, aplikasi ini dimaksudkan untuk membuat pengguna berpikir dua kali sebelum melakukan sesuatu yang dapat membuat mereka mendapat masalah.
Download aplikasi baru mesti datang
Meskipun beberapa konten dan file aplikasi Android dapat diunduh melalui jaringan, ekosistem seluler Korea Utara tampaknya tidak memiliki fungsi seperti toko aplikasi tempat pembaruan dapat dikirimkan ke ponsel.
Pengguna harus mengunjungi salah satu dari jaringan ratusan 'Pusat Pertukaran IT' yang tersebar di seluruh negeri. Ini merupakan tempat aplikasi dan konten baru dapat ditransfer ke ponsel.
Pengguna harus mengunjungi salah satu jaringan dari ratusan 'Pusat Pertukaran IT' yang tersebar di seluruh negeri. Ini merupakan tempat aplikasi dan konten baru dapat ditransfer ke ponsel. Foto: Korean Central Television |
Bisa dipakai apa saja?
Smartphone untuk warga Korut juga dapat dipakai untuk hiburan tambahan melalui permainan dan streaming video. Yang penting, negara tetap berupaya memberantas konsumsi media ilegal yang diselundupkan dari luar negeri.
Beberapa layanan negara juga beralih ke daring, begitu pula layanan pribadi seperti pembayaran transportasi umum, pembayaran elektronik, dan layanan pengiriman. Meningkatnya penggunaan ponsel untuk mempermudah aktivitas sehari-hari memberi pemerintah cara lain untuk mengumpulkan data, memantau perilaku, dan mengawasi individu di sana.
(ask/ask)




