Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Data Center AI Dikritik Karena Rakus Energi, Ini Jurus Nvidia

Data Center AI Dikritik Karena Rakus Energi, Ini Jurus Nvidia


Anggoro Suryo - detikInet

CEO Nvidia Jensen Huang miliki properti mewah di San Francisco, Hawaii, dan Los Altos Hills. Begini wujud rumah manusia yang memiliki harta Rp 2.400 triliun.
Foto: dok. idesignarch
Jakarta -

Gempuran kritik publik terhadap rakusnya konsumsi air dan energi oleh pusat data (data center) Kecerdasan Buatan (AI) membuat para raksasa teknologi putar otak. Kini, Nvidia unjuk gigi dengan memamerkan desain referensi pusat data generasi terbarunya, Rubin, yang diklaim mampu memangkas penggunaan air hingga nyaris nol.

Dalam sebuah publikasi terbarunya, Nvidia memamerkan desain pusat data yang sepenuhnya menggunakan sistem pendingin cair. Desain referensi beralias DSX AI factory ini diklaim "telah mengeliminasi sejumlah besar penggunaan daya dan hampir semua penggunaan air."

Meski terdengar menjanjikan, inovasi ini tetap memicu perdebatan. Beberapa pihak menyoroti bahwa Nvidia belum transparan mengenai perbandingan biaya pembangunan infrastruktur canggih ini dibandingkan dengan sistem pendingin udara konvensional yang lebih murah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Namun, Nvidia mengklaim bahwa setiap penyedia cloud dan operator data center yang membangun infrastruktur untuk generasi Rubin tengah melakukan transisi tersebut, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Jumat (26/6/2026).

Lantas, bagaimana cara Nvidia mencapai klaim 'nol air' ini? Berikut adalah rangkumannya:

1. Sistem Sirkuit Tertutup yang Lebih Panas

Kunci efisiensi sistem pendingin ini justru terletak pada kemampuannya beroperasi di suhu yang lebih panas. Nvidia merancang agar cairan pendingin (yang merupakan campuran air dan propilen glikol) dapat beroperasi aman hingga suhu ekstrem 45 derajat Celcius (113 derajat Fahrenheit).

Panas ditangkap langsung pada tingkat chip (CPU dan GPU) dan dialirkan melalui sirkuit cairan tertutup (closed-loop). Berkat suhu operasional cairan yang sangat panas ini, pusat data dapat menggunakan pendingin kering di luar ruangan (outdoor dry coolers) untuk membuang panas secara efisien hampir sepanjang tahun, tanpa memerlukan alat pendingin mekanis (chiller) yang rakus energi.

Sebagai perbandingan, raksasa teknologi lain seperti Amazon baru-baru ini juga membanggakan toleransi panas yang lebih tinggi di fasilitas mereka demi membuat pusat data berpendingin udara menjadi lebih efisien.

2. Menghemat Jutaan Galon Air

Menurut Josh Parker, Head of Sustainability Nvidia, desain referensi baru ini adalah sebuah lompatan raksasa.

Dalam sistem cooling-tower konvensional yang mengandalkan penguapan, sebuah pusat data bisa menghabiskan sekitar 2,6 juta galon air per megawatt setiap tahunnya. Dengan desain liquid cooling generasi Rubin, Nvidia mengklaim konsumsi air di lokasi fasilitas (on-site) bisa ditekan mendekati nol--sebuah pengurangan hingga 100 persen.

Kehadiran teknologi ini menjadi sangat krusial. Pasalnya, Amazon belum lama ini mengungkapkan bahwa pusat data global mereka mengonsumsi sekitar 2,5 miliar galon (sekitar 9,46 miliar liter) air dalam satu tahun saja, memicu kekhawatiran serius di tengah krisis iklim global.




(asj/asj)
TAGS




Hide Ads