Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Nvidia Ngarep Banget China Mau Beli Chip Terbarunya Vera

Nvidia Ngarep Banget China Mau Beli Chip Terbarunya Vera


Panji Saputro - detikInet

CEO Nvidia Jensen Huang
CEO Nvidia, Jensen Huang. Foto: Adi Fida Rahman/detikinet
Jakarta -

Nvidia berharap banget China mau membeli chip terbarunya, Vera. Raksasa teknologi ini sedang berupaya keras menghidupkan kembali kepercayaan dan keuntungan mereka yang telah menurun drastis di Negeri Tirai Bambu tersebut.

Hal ini terjadi karena pengiriman chip kecerdasan buatan (AI) terkuat kedua mereka, H200, ke China telah berhenti selama berbulan-bulan. Sang CEO, Jensen Huang, pun sudah mengonfirmasi kalau pangsa pasar perusahaannya di China sudah nol. Padahal, negara tersebut menjadi salah satu klien terbesar mereka.

Oleh sebab itu, Nvidia sedang berusaha memenangkan hati pelanggannya di China lewat data center AI, untuk apa yang dianggap oleh pemimpinnya sebagai peluang bisnis bernilai miliaran dolar berikutnya bagi perusahaan, dikutip dari Tech Radar, Sabtu (20/6/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Berdasarkan tiga sumber yang tidak ingin disebutkan namanya, saat ini Nvidia telah memberi tahu kliennya di China bahwa Vera berbasis Arm akan tersedia paling cepat Agustus 2026. Namun mereka mengingatkan kalau pemesanan sudah dapat dilakukan dari sekarang.

Tentunya langkah ini menempatkan Nvidia dalam persaingan yang semakin ketat dengan perusahaan CPU kondang, Intel dan AMD. Seperti yang diketahui, kedua Intel dan AMD sudah lama mendominasi pasar prosesor dengan arsitektur x86.

Namun Vera menjadi senjata baru Nvidia yang diklaim 1,8 kali lebih cepat dari CPU x86. Vera menawarkan bandwith memori empat kali lebih besar, dan memberikan peningkatan kinerja hingga 50% dibandingkan CPU rak standar.

Reuters melaporkan, beberapa klien di China telah menunjukkan minat pada chip Vera. Salah satu perusahaan cloud di negara itu berencana memesan lebih dari 300 server, yang mana masing-masing berisi dua CPU Vera.

Meski begitu, klien yang belum diketahui secara pasti namanya ini ingin melakukan uji coba terlebih dahulu. Berdasarkan hasil pengetesan nanti, mereka akan memutuskan apakah akan melakukan pembelian atau tidak.

Vera diperkirakan dihargai lebih dari USD 20 ribu atau sekitar Rp 356 juta. Kendati demikian, harga ini belum didiskon dengan promo pembelian dalam jumlah besar.

Ketertarikan China pada Vera muncul ketika persaingan AI secara global bergeser dari pelatihan model ke komputasi inferensi, proses di mana machine learning telah dilatih menerapkan pengetahuannya pada data baru untuk membuat prediksi, mengambil keputusan, dan memberikan respon.

Namun, apakah ini akan terwujud sesuai dengan harapan mereka masih belum diketahui. Hal ini mengingat, regulator China tampaknya semakin gencar mendorong swasembada di sektor chip. Dengan begitu, banyak perusahaan rintisan AI dan raksasa di negara ini memilih opsi chip lokal, seperti Ascend milik Huawei dan Hanguang kepunyaan T-Head.



(hps/asj)




Hide Ads
LIVE