Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
PixVerse R1 Bikin Video AI Hidup dan Berinteraksi, Dukung Bahasa Indonesia

PixVerse R1 Bikin Video AI Hidup dan Berinteraksi, Dukung Bahasa Indonesia


Adi Fida Rahman - detikInet

PixVerse
PixVerse R1 Bikin Video AI Bisa Hidup dan Berinteraksi, Dukung Bahasa Indonesia. Foto: PixVerse
Jakarta -

Industri video berbasis kecerdasan buatan (AI) kembali memasuki babak baru. PixVerse, perusahaan AI asal China yang dikenal lewat platform pembuat video generatifnya, memperkenalkan teknologi terbaru bernama PixVerse R1 dalam ajang Global Connect Show (GCS) 2026 di Shenzhen, China.

Berbeda dengan generator video AI konvensional yang menghasilkan klip pendek dan membutuhkan waktu pemrosesan tertentu, PixVerse R1 dirancang sebagai Real-time World Model yang mampu menciptakan video interaktif secara langsung.

Teknologi ini memungkinkan pengguna berinteraksi dengan dunia virtual yang terus berkembang dan merespons perintah secara real-time. Menariknya lagi, PixVerse juga telah mendukung berbagai bahasa, termasuk Bahasa Indonesia, sehingga pengguna di Tanah Air dapat memanfaatkan platform ini dengan lebih mudah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Founder dan CEO PixVerse, Changhu Wang, mengatakan bahwa R1 bukan sekadar peningkatan performa, melainkan perubahan besar dalam cara manusia berinteraksi dengan media digital.

ADVERTISEMENT

"Ini bukan hanya video yang lebih cepat. Untuk pertama kalinya, AI dapat menciptakan dunia yang persisten dan masuk akal secara fisika yang berevolusi secara real-time sesuai keinginan pengguna," ujar Wang dalam keterangan resmi.

Menurutnya, jika video tradisional merupakan rekaman masa lalu, maka teknologi seperti R1 memungkinkan AI menghasilkan pengalaman yang berlangsung pada saat itu juga. PixVerse R1 dibangun di atas tiga teknologi utama.

PixVerseRobyn Tan, Global PR Head PixVerse. Foto: detikINET

Pertama adalah Omni Native Multimodal Foundation Model yang menyatukan teks, gambar, audio, dan video dalam satu arsitektur terpadu. Dengan pendekatan ini, sistem dapat memahami berbagai jenis input secara bersamaan sehingga menghasilkan respons yang lebih alami.

Kedua adalah Consistency-aware Autoregressive Framework yang memungkinkan video berjalan tanpa batas durasi sambil menjaga konsistensi objek, karakter, dan lingkungan di dalamnya. Teknologi ini mengatasi salah satu masalah terbesar video AI generatif, yakni perubahan visual yang sering tidak konsisten dari satu frame ke frame berikutnya.

Ketiga adalah Instantaneous Response Engine yang memangkas proses generasi menjadi hanya 1 hingga 4 langkah sampling. Hasilnya, respons dapat muncul hampir seketika dengan kecepatan generasi diklaim mencapai 0,03 detik.

PixVersePixVerse Foto: detikinet

PixVerse saat ini mengoperasikan tiga lini model utama. Seri V atau V6 menjadi model yang ditujukan untuk pasar massal dengan kemampuan menghasilkan video hingga resolusi 4K dalam waktu sekitar lima detik.

Seri C atau C1 yang diperkenalkan pada April 2026 difokuskan untuk kebutuhan produksi sinematik profesional. Sementara itu, R1 menjadi model paling ambisius karena dirancang untuk mendukung streaming tanpa batas, dunia virtual interaktif, hingga kolaborasi multi-pengguna dalam satu lingkungan digital yang sama.

"Platform ini mendukung tiga metode pembuatan konten utama, yakni text-to-video, image-to-video, dan produksi sinematik berbasis banyak gambar," kata Robyn Tan, Global PR Head PixVerse.

Selain itu, PixVerse juga menghadirkan sistem transparansi token yang memungkinkan pengguna melihat estimasi penggunaan kredit sebelum proses generasi dimulai. Fitur tersebut dinilai penting untuk kreator maupun perusahaan yang mengelola biaya produksi konten berbasis AI.

PixVerse mengklaim telah memiliki lebih dari 100 juta pengguna di seluruh dunia. Basis penggunanya mencakup kreator media sosial, pembuat konten profesional, hingga perusahaan dan stasiun televisi yang memanfaatkan AI untuk mempercepat proses produksi video.

Teknologi ini juga mulai digunakan untuk membuat storyboard, simulasi adegan berisiko tinggi, hingga pembuatan konten promosi tanpa harus melibatkan proses syuting konvensional yang mahal.

PixVersePixVerse Foto: detikINET

Di balik perkembangan pesat tersebut, isu etika tetap menjadi perhatian utama. Kekhawatiran mengenai penyebaran deepfake, manipulasi informasi, dan perlindungan anak semakin mengemuka seiring meningkatnya kualitas video AI.

Robyn Tan mengungkapkan bahwa PixVerse menerapkan watermark AI dan sistem moderasi yang ketat untuk mencegah penyalahgunaan teknologi. Namun ia mengakui bahwa watermark bukan solusi sempurna karena teknologi penghapus watermark juga terus berkembang.

Karena itu, perusahaan terus memperkuat sistem keamanan dan menjadikan perlindungan terhadap anak serta pencegahan konten non-konsensual sebagai prioritas utama.
Ke depan, PixVerse berencana mempertahankan siklus pembaruan besar setiap dua hingga tiga bulan. Fokus pengembangannya meliputi peningkatan logika fisika, konsistensi adegan, durasi video yang lebih panjang, serta penguatan fitur keamanan.



(afr/afr)






Hide Ads