×
Ad

Riset: Gara-gara Gadget, Manusia Jadi Lebih Pendiam

Anggoro Suryo - detikInet
Rabu, 29 Apr 2026 11:27 WIB
Foto: Getty Images/tkpond
Jakarta -

Kemajuan teknologi digital dan kebiasaan hidup yang serba online ternyata berdampak langsung pada cara manusia berinteraksi. Sebuah riset terbaru mengungkap fakta mengejutkan bahwa jumlah kata yang diucapkan manusia secara langsung kepada orang lain telah menurun drastis hingga hampir 28 persen.

Penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari University of Missouri-Kansas City dan University of Arizona ini membandingkan data rentang tahun 2005 hingga 2019. Mengingat adanya pandemi yang memaksa pembatasan sosial setelah periode tersebut, angka penurunannya saat ini diprediksi jauh lebih parah.

Dalam risetnya, para peneliti secara spesifik menghitung rata-rata jumlah kata yang diucapkan manusia setiap harinya. Mereka menganalisis data dari 22 studi yang melibatkan lebih dari 2.000 orang yang merekam audio kehidupan sehari-hari mereka.

Hasilnya, pada tahun 2005, rata-rata orang masih mengucapkan sekitar 16.632 kata per hari. Namun seiring berjalannya waktu--di mana memesan makanan lewat aplikasi menjadi hal yang lumrah, intensitas berkirim pesan teks (chatting) meningkat, dan kehidupan makin beralih ke dunia maya--angka tersebut anjlok tajam. Pada tahun 2019, manusia rata-rata hanya mengucapkan sekitar 11.900 kata per hari.

Anak Muda Paling Terdampak

Peneliti menemukan bahwa generasi muda sedikit lebih rentan terhadap tren kebisuan ini. Berikut adalah rincian penurunan rata-rata jumlah kata harian setiap tahunnya berdasarkan kelompok usia:

  • Usia di bawah 25 tahun: Kehilangan 451 kata per hari setiap tahunnya.
  • Usia di atas 25 tahun: Kehilangan 314 kata per hari setiap tahunnya.
  • Rata-rata keseluruhan: Kehilangan 338 kata per hari setiap tahunnya.

Jika tren mengerikan ini terus berlanjut hingga beberapa tahun ke depan, para peneliti memproyeksikan bahwa saat ini kita mungkin hanya mengucapkan kurang dari 10.000 kata per harinya.

Dampak Psikologis dan Solusinya

The Wall Street Journal menyoroti adanya kekhawatiran serius terkait efek psikologis dari berkurangnya interaksi langsung antarmanusia ini. Dampaknya bukan hanya memicu epidemi kesepian atau risiko seseorang mudah terjebak dalam teori konspirasi di internet.

Menurut para penulis studi, manusia kini perlahan mulai kehilangan keterampilan percakapan dasar, seperti etika tentang bagaimana cara untuk tidak memotong pembicaraan orang lain.

Meski temuan ini terdengar mengkhawatirkan, profesor linguistik dari University of Nevada, Valerie Fridland, mengimbau masyarakat untuk tidak perlu panik. Menurutnya, perubahan-perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari bisa membantu membalikkan keadaan ini.

Beberapa langkah sederhana yang disarankan antara lain adalah membiasakan orang tua untuk lebih sering mengajak bayinya mengobrol, kembali menggunakan telepon rumah untuk menelepon kerabat, dan membiasakan diri untuk meletakkan smartphone sejenak pada siang hari, demikian dikutip detikINET dari The Verge, Rabu (29/4/2026).



Simak Video "Samsung Galaxy S26 Ultra, Worth It atau Sekadar Gimik?"

(asj/asj)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork