Iran membangun jaringan CCTV untuk mengawasi dan menekan aksi protes rakyatnya. Namun ironisnya, sistem itu justru dimanfaatkan Israel untuk melacak dan membunuh pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Informasi ini diungkap Associated Press (AP) berdasarkan sumber intelijen yang mengetahui operasi tersebut. Laporan terbaru menyebut Israel berhasil menyusup ke sistem kamera pengawas di Tehran dan memanfaatkannya sebagai alat intelijen. Sistem yang dirancang untuk memantau warga itu berubah menjadi "mata-mata digital" yang membantu operasi militer presisi.
Menurut sejumlah sumber intelijen, kamera lalu lintas dan CCTV kota telah diretas selama bertahun-tahun. Data yang diambil kemudian dianalisis menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk memetakan pola pergerakan Khamenei dan lingkaran keamanannya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
CCTV Jadi Senjata Intelijen
Dua sumber intelijen AP mengungkapkan, hampir seluruh kamera lalu lintas Teheran telah diretas bertahun-tahun sebelum operasi dijalankan. Rekaman langsung dari kamera-kamera itu dikirim secara diam-diam ke server di Israel.
Satu kamera bahkan memiliki sudut pandang sempurna ke tempat parkir dekat kompleks kepemimpinan Iran. Algoritma AI kemudian menganalisis rekaman tersebut secara otomatis - mengungkap pola perjalanan, alamat, hingga susunan pengawal Khamenei. Begitu sistem mendeteksi keberadaan Khamenei di kompleks tersebut pada pagi hari, serangan pun dilancarkan.
Ironisnya, peringatan sudah berkali-kali datang. Mahmoud Nabavian, Wakil Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, bahkan pernah berteriak lantang di media Iran: "Semua kamera di persimpangan kita sudah di tangan Israel. Kalau kita bergerak, mereka akan tahu." Peringatan itu diabaikan - dan akibatnya fatal.
Mengapa CCTV Sangat Mudah Diretas?
Paul Marrapese, insinyur keamanan siber, menemukan hampir 3 juta kamera tidak terlindungi di seluruh dunia pada pemindaian tahun ini - termasuk hampir 2.000 kamera di Iran.
Penyebabnya klasik: password default tidak pernah diganti, firmware tidak diperbarui, hingga kamera dihubungkan langsung ke internet tanpa pengamanan. Iran yang terkena sanksi Barat memperparah situasi, karena terpaksa mengandalkan hardware China atau perangkat lunak bajakan yang minim dukungan keamanan.
"Ada jutaan kamera di seluruh dunia. Banyak yang sangat mudah diretas. Ini seperti ikan di dalam tong," ujar Marrapese.
Senjata Pengawas yang Berbalik Membunuh Tuannya
Conor Healy, Direktur Riset di IPVM, menyebut tragedi ini sebagai cerminan sempurna dari dilema rezim otoriter:
"Ironisnya, infrastruktur yang dibangun untuk membuat kekuasaan mereka tak tergoyahkan justru membuat pemimpin mereka paling mudah terlihat oleh orang-orang yang ingin membunuhnya."
Iran memperluas jaringan kameranya besar-besaran setelah protes Januari 2026 yang menewaskan ribuan warga. Kamera-kamera itu dilengkapi AI pengenalan wajah untuk mendeteksi para demonstran. Namun data yang dikumpulkan untuk menekan rakyat itu justru menjadi santapan empuk bagi intelijen musuh.
Peristiwa ini kini menjadi wake-up call bagi seluruh kawasan. Negara-negara Teluk panik, sejumlahnya melarang warga merekam atau menyiarkan langsung serangan rudal. Awal Maret 2026, Israel bahkan memperingatkan ratusan pemilik kamera di negaranya yang menjadi target balasan Iran.
Di era AI dan konektivitas tanpa batas, kamera yang dipasang untuk mengawasi rakyat bisa kapan saja berbalik mengawasi - dan membunuh - sang penguasa itu sendiri.
(afr/afr)

