Setelah riset dan pengembangan panjang, peluncuran taksi terbang mungkin di depan mata, tapi bermacam rintangan masih bisa menjegalnya. Perusahaan Amerika Serikat, Joby Aviation dan Archer, mengumumkan rencana meluncurkan layanan taksi udara di Dubai akhir tahun ini. Ini akan jadi tonggak penting menuju komersialisasi.
Namun kekhawatiran keselamatan, kelayakan finansial serta tantangan infrastruktur membuat kita mungkin masih harus menunggu. "Kami berpendapat layanan skala penuh lebih mungkin terwujud pada pertengahan dekade berikutnya, bukan waktu dekat," kata Sergio Cecutta dari SMG Consulting yang dikutip detikINET Live Science, Senin (23/3/2026).
Rencana meluncurkan taksi terbang sering layu sebelum berkembang. Contohnya, sempat ada rencana memperkenalkan taksi terbang pada Olimpiade Paris 2024 namun dibatalkan karena penundaan sertifikasi mesin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Janji taksi berupa pesawat lepas landas dan mendarat vertikal elektrik (eVTOL) adalah alternatif senyap, ramah lingkungan, dan lebih efisien dibanding helikopter. Walau desain bervariasi antar perusahaan, umumnya mereka mengandalkan propulsi listrik dengan banyak motor listrik dan baling-baling, dengan wujud mirip drone.
Beberapa eVTOL, seperti buatan perusahaan Jerman Volocopter dan perusahaan China EHang, baling-balingnya dipasang vertikal. Perusahaan lain seperti Joby dan Archer bereksperimen dengan baling-baling yang dapat bergeser dari posisi vertikal ke horizontal.
Memakai baterai, pesawat ini bisa lebih hijau dan senyap dari pesawat konvensional. Secara teori, efisiensi dan kesederhanaan motor listrik dapat membuat eVTOL lebih murah untuk diproduksi dan dioperasikan. Para pendukung mengatakan ini memungkinkan pengoperasian dalam jumlah besar di perkotaan dengan harga terjangkau.
Namun, menerbangkan kelas pesawat baru tak mudah. Memulai operasi komersial mengharuskan mereka melalui proses sertifikasi ketat dengan otoritas penerbangan. Ini termasuk badan-badan seperti FAA atau Badan Keselamatan Penerbangan Uni Eropa (EASA). Walau berbeda-beda di tiap negara, kemungkinan akan melibatkan sekitar 1.000 jam uji terbang yang diawasi regulator.
"Kami rasa sertifikasi, bahkan untuk perusahaan termaju sekalipun, baru akan terjadi pada 2027. Dan untuk beberapa perusahaan lain, pencapaian tersebut mungkin baru terjadi pada 2028 atau 2029," kata Cecutta.
Mungkin juga masih akan ada ganjalan signifikan dalam upaya membuktikan kelaikan udara. Richard Brown, konsultan aerodinamika di Sophrodyne Aerospace, menyebut ada kompleksitas teknis operasi eVTOL.
Riset Brown mengungkap hembusan udara ke bawah dari rotor eVTOL dapat menciptakan aliran udara sangat terkonsentrasi dan dengan kekuatan mengejutkan. Hal ini dapat merusak infrastruktur sekitar atau membuat orang terpelanting.
Ada pula risiko vortex ring state, kondisi aerodinamis berbahaya yang dapat menyebabkan rotor tiba-tiba kehilangan daya dorong. Ini menjadi masalah keselamatan bagi helikopter. Desain eVTOL dengan banyak rotor yang saling berinteraksi mungkin jauh lebih rentan.
Sekalipun startup mampu mengatasinya, masih ada pertanyaan mengenai kelayakan ekonominya. Biaya akan turun seiring peningkatan produksi dan penerbangan otonom dapat memangkas biaya pilot. Namun ini akan memakan waktu, sehingga mungkin butuh satu dekade lagi sebelum eVTOL jadi transportasi penumpang kelas menengah, bukan hanya kalangan kaya.
Sweetman lebih skeptis mengenai apakah operasi eVTOL akan mencapai skala untuk menekan biaya. Ia mempertanyakan apakah perkotaan dapat mengakomodasi ratusan atau ribuan pesawat agar bisnis ini masuk akal secara finansial.
(fyk/fyk)