×
Ad

Hacker Iran Serang Raksasa Alat Medis AS, 200.000 Perangkat Terhapus

Adi Fida Rahman - detikInet
Jumat, 13 Mar 2026 07:15 WIB
Hacker Iran Serang Raksasa Alat Medis AS, 200.000 Perangkat Terhapus. Foto: The Verge
Jakarta -

Konflik antara Iran dan Amerika Serikat kini merambah ke dunia maya. Sebuah kelompok hacker yang diduga terkait Iran dilaporkan melancarkan serangan siber besar terhadap perusahaan teknologi medis asal Amerika Serikat, Stryker.

Kelompok hacker bernama Handala mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka menyebut berhasil menghapus data dari lebih dari 200.000 perangkat, server, dan sistem perusahaan secara global, sekaligus mencuri sekitar 50 terabyte data internal.

Serangan ini membuat sistem perusahaan di berbagai negara lumpuh dan memicu gangguan besar terhadap operasional global Stryker.

Dilansir The Verge, Stryker merupakan salah satu produsen alat kesehatan terbesar di dunia yang berbasis di Michigan, Amerika Serikat. Perusahaan ini memproduksi berbagai perangkat medis penting seperti implan ortopedi, alat bedah, hingga teknologi rumah sakit yang digunakan di berbagai negara.

Dengan lebih dari 50 ribu karyawan di puluhan negara, gangguan terhadap perusahaan ini langsung berdampak luas pada jaringan operasional global.

Sejumlah laporan menyebut ribuan karyawan Stryker di berbagai negara tiba-tiba mendapati laptop dan ponsel kerja mereka tidak dapat digunakan. Banyak perangkat dilaporkan mati total setelah data dihapus secara massal dari sistem perusahaan.

Bahkan beberapa halaman login internal perusahaan sempat berubah menampilkan logo kelompok hacker yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Pihak Stryker mengonfirmasi bahwa perusahaan mengalami gangguan jaringan global yang memengaruhi lingkungan sistem Microsoft mereka. Dalam pernyataan resmi, perusahaan menyebut gangguan tersebut disebabkan oleh serangan siber dan saat ini sedang dalam proses investigasi. Stryker juga menyatakan tidak menemukan indikasi adanya ransomware atau malware yang menyandera data perusahaan.

Sejumlah analis keamanan siber menyebut teknik serangan yang digunakan cukup unik dan berbahaya. Para hacker diduga berhasil mengakses sistem manajemen perangkat perusahaan yang berbasis cloud, seperti Microsoft Intune.

Melalui akses tersebut, mereka dapat mengirim perintah remote wipe atau penghapusan jarak jauh ke ribuan perangkat sekaligus. Fitur ini sebenarnya dirancang untuk menghapus data dari perangkat yang hilang atau dicuri, namun dalam kasus ini dimanfaatkan untuk menghapus sistem secara massal.

Berbeda dengan ransomware yang mengenkripsi data untuk meminta tebusan, serangan jenis ini dikenal sebagai wiper attack. Tujuannya bukan mendapatkan uang, melainkan menghancurkan data sehingga sistem tidak dapat digunakan. Jika tidak memiliki cadangan data yang memadai, pemulihan sistem bisa memakan waktu lama dan menimbulkan kerugian besar.

Kelompok Handala sendiri menyebut serangan tersebut sebagai bentuk balasan terhadap konflik militer yang sedang berlangsung di Timur Tengah. Dalam pernyataan yang diunggah di media sosial, mereka menyinggung serangan terhadap sekolah perempuan di Minab, Iran, yang dilaporkan menewaskan lebih dari 170 orang. Menurut mereka, serangan terhadap perusahaan Amerika merupakan respons terhadap peristiwa tersebut.

Insiden ini memicu kekhawatiran di kalangan pakar keamanan siber karena menunjukkan bagaimana konflik geopolitik kini semakin sering melibatkan perusahaan swasta sebagai target. Perusahaan teknologi, sektor kesehatan, hingga infrastruktur digital kini menjadi sasaran potensial dalam konflik antarnegara.

Serangan terhadap Stryker juga menunjukkan bagaimana perang modern tidak hanya terjadi di medan tempur fisik, tetapi juga di jaringan komputer dan sistem cloud perusahaan global. Dengan satu akses yang berhasil ditembus, hacker dapat melumpuhkan operasi perusahaan multinasional dalam hitungan jam.

Saksikan Live DetikPagi:



Simak Video "Video: Hati-hati! Ini Tandanya Jika Akun Gmail Sudah Diretas"

(afr/afr)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork