Ponsel dan internet sudah menjadi bagian tidak terpisahkan dari pengasuhan anak-anak di Indonesia. Orang tua diimbau untuk terus mendampingi putra-putrinya saat menggunakan gadget dan berselancar.
Woro Srihastuti Sulistyaningrum, Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK mengatakan saat ini penetrasi internet di kalangan anak-anak dan remaja sudah besar, sementara pendampingan dari orang tua masih rendah.
Data Profil Anak Usia Dini mengungkap 42,25% anak usia dini sudah terpapar penggunaan ponsel pada tahun 2025, naik dari 39,71% pada tahun sebelumnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, pada tahun 2025 ada 41,02% anak usia dini yang sudah mengakses internet, naik dari 35,7% pada tahun sebelumnya. Tidak hanya itu, 35,59% anak usia 1-4 tahun sudah mengakses internet.
"Sementara untuk mereka yang sudah terkoneksi dengan internet, yang sudah dipegangi gadget, itu hanya tidak sampai 30% yang didampingi oleh orang tuanya dalam penggunaan gadget-nya. Inilah tantangan kita saat ini," kata Woro dalam acara Bijak Cerdas dan Ber-AI di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Tjhin Wiguna, Kepala Divisi Psikiatri Anak dan Remaja FKUI-RSCM (kanan) Foto: Virgina Maulita Putri/detikINET |
Tjhin Wiguna, Kepala Divisi Psikiatri Anak dan Remaja FKUI-RSCM, dalam kesempatan yang sama mengatakan memberikan gadget ke anak tanpa pengawasan bisa menyebabkan banyak masalah.
Anak bisa saja terpapar konten yang tidak pantas, dan jika terus dikonsumsi akan menghambat perkembangan otak bagian depan sehingga sulit mengontrol emosi dan perilakunya.
"Makanya nggak heran kan anak-anaknya itu begitu diambil gadget-nya, jangankan diambil, baru dibilang sama orang tuanya langsung nangis-nangis," kata Tjhin.
Tjhin menambahkan orang tua seharusnya berperan sebagai co-user dengan anak untuk mendampingi mereka saat mengakses internet. Ia mencontohkan fitur seperti Family Link yang disediakan oleh Google untuk membantu orang tuanya mengawasi penggunaan gadget dan internet oleh anak.
"Co-user menjadi penting karena kita maunya adalah healthy user yang bijak, cerdas berdigital berarti harus dalam kondisi sehat. Dengan demikian, kembali lagi, terapkan lah family rules di antara keluarga kita masing-masing untuk bisa mencapai bijak, cerdas, berdigital untuk anak-anak kita agar bisa sehat secara fisik dan mental," pungkas Tjhin.
(vmp/vmp)
